<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101</id><updated>2011-10-19T11:17:09.933-07:00</updated><title type='text'>SeTia alwayz--Edu.....</title><subtitle type='html'>Blog ini spesial untuk pendidikan...All About Education..
Keep Fight..!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-2271852324690455854</id><published>2008-06-27T00:40:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T01:56:59.102-07:00</updated><title type='text'>Nilai Etika dan Estetika dalam Kebudayaan...</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;Secara historis perkembangan zaman boleh saja mengalami perubahan yang dahsyatmun, peran kesenian tidak akan pernah berubah dalam tatanan kehidupan manusia. Sebab, melalui media kesenian, makna harkat menjadi citra manusia berbudaya semakin jelas dan nyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Bagi manusia &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; telanjur memiliki meterai sebagai bangsa yang berbudaya. Semua itu dikarenakan kekayaan dari keragaman kesenian daerah dari Sabang sampai Merauke yang tidak banyak dimiliki bangsa lain. Namun, dalam sekejap, pandangan terhadap bangsa kita menjadi ”aneh” di mata dunia. Apalagi dengan mencuatnya berbagai peristiwa kerusuhan, dan terjadinya pelanggaran HAM yang menonjol makin memojokkan nilai-nilai kemanusiaan dalam potret kepribadian bangsa.&lt;br /&gt;Padahal, secara substansial bangsa kita dikenal sangat ramah, sopan, santun dan sangat menghargai perbedaan sebagai aset kekayaan dalam dinamika hidup keseharian. Transparansi potret perilaku ini adalah cermin yang tak bisa disangkal. Bahkan, relung kehidupan terhadap nilai-nilai etika, moral dan budaya menjadi bagian yang tak terpisahkan. Namun, kenyataannya kini semuanya telah tercerabut dan ”nyaris” terlupakan.&lt;br /&gt;Barangkali ada benarnya, dalam potret kehidupan bangsa yang amburadul ini, kita masih memiliki wadah BKKNI (Badan Koordinasi Kebudayaan Nasional Indonesia) yang mengubah haluan dalam transformasi sosial, menjadi BKKI (Badan Kerja sama Kesenian Indonesia) pada Februari lalu. Barangkali dengan baju dan bendera baru ini, H. Soeparmo yang terpilih sebagai ”bidannya” dapat membawa reformasi struktural dan sekaligus dapat memobilisasi aktivitas kesenian sebagaimana kebutuhan bangsa kita. Sebab, salah satu tugas dalam peran berkesenian adalah membawa kemerdekaan dan kebebasan kreativitas bagi umat manusia sebagai dasar utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang Punggung&lt;br /&gt;Suatu dimensi baru, jika dalam pola kebijakan untuk meraih citra sebagai manusia &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dapat diwujudkan. Untuk hal tersebut, kebijakan menjadi bagian yang substansial sifatnya. Bukan memberi penekanan pada konsep keorganisasian, sebagai bendera baru dalam praktik kebebasan. Melainkan, bercermin pada kebutuhan manusia terhadap kebenaran, dan nilai-nilai keadilan. Sehingga, kesenian dapat menjadi tulang punggung mempererat kehidupan yang lebih tenang, teduh dan harmonis.&lt;br /&gt;Dalam koridor menjalin kesatuan dan persatuan bangsa, dan mengangkat citra kehidupan manusia &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; di mata dunia, perlu adanya upaya yang tangguh dan kokoh. Sebab, tanpa upaya tersebut niscaya kita hanya mengenang masa silam dan mengubur masa depan dari lahirnya sebuah peradaban. Dalam hal ini kita sebagai bangsa yang dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, tentu tidak akan rela.&lt;br /&gt;Namun demikian, gradasi budaya itu menukik tajam, dan dapat dirasakan sejak jatuhnya rezim Soeharto. Meskipun, pada rezim kekuasaan Orde Baru bukan berarti tidak ada sama sekali pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan, justru karena terselubung dengan rapi maka ”borok” kemerosotan moral itu tidak begitu tampak. Tetapi, kini semuanya menjadi serba terbuka dan menganga. Siapa pun punya hak dan kewajiban untuk menjadi ”pelaku” reformasi, tidak sekadar jadi penonton. Itu sebabnya, tidaklah salah jika dalam memperbaiki kondisi bangsa, kita juga proaktif dalam menyikapinya.&lt;br /&gt;Tak dapat disangkal, jika kesenian merupakan kebutuhan dasar manusia secara kodrati dan unsur pokok dalam pembangunan manusia &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Tanpa kesenian, manusia akan menjadi kehilangan jati diri dan akal sehat. Sebab, kebutuhan manusia itu bukan hanya melangsungkan hajat hidup semata, tetapi juga harus mengedepankan nilai-nilai etika dan estetika. Untuk wujudkan manusia dewasa yang sadar akan arti pentingnya manusia berbudaya, obat penawar itu barangkali adalah kesenian.&lt;br /&gt;Unsur penciptaan manusia sebagai proses adalah konteks budaya. Dalam hal ini, apa yang diimpikan Konosuke Matsushita dalam bukunya Pikiran Tentang Manusia menjadi dasar pijakan kita, jika ingin menjadi manusia seutuhnya. Sebab, pada dasarnya manusia membawa kebahagiaan dan mengajarkan pergaulan yang baik dan jika perlu memaafkan sesamanya. Karena, dari sinilah dapat berkembang kesenian, kesusastraan, musik dan nilai-nilai moral. Sehingga, pikiran manusia menjadi cerah dan jiwanya menjadi kaya.&lt;br /&gt;Bertalian dengan konteks itu, Soeparmo dalam ceramahnya di depan pengurus daerah juga mengatakan hal yang sama. Artinya, jika manusia sudah tidak mampu menjalankan tugas kreativitasnya, maka manusia itu menjadi mandek dan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Semrawut&lt;br /&gt;Carut marut kehidupan saat ini, semakin tumpang tindih. Persoalan bangsa menjadi bara api yang sulit untuk dipadamkan. Kondisi sosial yang tidak lagi bersahabat, menjadikan manusia makin kehilangan jati dirinya. Bahkan berbagai ramalan menatap masa depan bangsa, hanya berisi pesimistis dan sinis. Jika kearifan yang dimiliki manusia semakin sempit dan terbatas, barangkali kegelisahan sebagai anak bangsa semakin beralasan.&lt;br /&gt;Potret sosial yang kini menjadi skenario massal masih menjadi tekanan dalam konteks berpolitik. Akibatnya, pertarungan yang tidak pernah akan menyelesaikan masalah terus berjalan tanpa ada ”rem” nya. Dan itu dapat kita lihat secara kasat mata, pertunjukan ”dagelan” yang hanya untuk memuaskan nafsu kekuasaan dan ingin menunjukkan kekuatan dalam menggalang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;br /&gt;Padahal, tugas sebagai manusia yang berbudaya senantiasa mengulurkan cinta kasih, perdamaian dan menjaga harmoni kehidupan. Tetapi, kenyataannya sikap dan perilaku dalam potret masa kini, nilai-nilai etika, norma-norma sosial, dan hukum moral menjadi ”haram” untuk dijadikan landasan berpikir yang sehat. Bahkan, upaya untuk berani membohongi diri sendiri, adalah ciri-ciri lenturnya nilai-nilai budaya.&lt;br /&gt;Dimensi sosial semacam ini, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; di mata dunia semakin menjadi bahan lelucon. Apalagi yang harus dijadikan komoditi bangsa dari berbagai aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal ekonomi, bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sudah menggadaikan diri nasibnya pada IMF. Soal politik, dianggap ”ludrukan” karena hanya sekadar entertainment. Dan lebih mengerikan lagi, pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di daerah-daerah membuat bingkai kemanusiaan semakin tidak memiliki harga diri. Dan masih banyak persoalan seputar kita yang semakin semrawut dan kehilangan konteks dalam pijakan untuk membangun manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;Jalan pintas melalui kesenian, barangkali masih bisa menjadi ”mediasi” silahturahmi di mata dunia. Karena dalam pendekatan kesenian, estika, etika, dan hukum moral merupakan ekspresi yang tidak pernah bicara soal kalah menang. Melainkan, dalam korelasi budaya pintu melalui kesenian masih bisa dijadikan komoditi yang bisa dijadikan akses kepercayaan.&lt;br /&gt;Apalagi dengan diberikannya kebebasan terhadap otonomi daerah, melalui undang-undang No.22/1999 harus dipandang sebagai suatu masa pencerahan dalam pembangunan manusia seutuhnya. Karena dengan otoritas yang ada, daerah dapat membangun wilayahnya dan pengembangan terhadap kesenian tidak lagi dijadikan ”proyek” yang sentralistik di pusat, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Kebebasan akan hal ini, harus dijadikan peluang untuk membangun potensi yang ada.&lt;br /&gt;Karena itu makna pembangunan, jangan hanya dilihat dari sukses dan tidaknya sarana jalan tol, pasar swalayan, mal-mal atau bahkan tempat-tempat hiburan yang kini sedang ”menggoda” mata budaya. Padahal ada hal yang lebih penting dari pesan Eric From dalam bukunya Manusia Bagi Dirinya bahwa, ”Ketidakharmonisan eksistensi, manusia menimbulkan kebutuhan yang jauh melebihi kebutuhan asli kebinatangannya. Kebutuhan-kebutuhan ini menimbulkan dorongan yang memaksa untuk memperbaiki sebuah kesatuan dan keseimbangan antara dirinya dan bagian alam.”&lt;br /&gt;Jika demikian masalahnya, masihkah kita men-dewa-kan pembangunan dalam arti yang harafiah sebagai lingkup keberadaan manusia. Sebab masih ada yang lebih substansial, pembangunan manusia seutuhnya lewat kesenian adalah cermin bagi kepribadian bangsa. Ironis, selama ini kita hanya terlena dalam memikirkan nasib bangsa dari sisi pembangunan perut semata. Akibatnya, dari waktu ke waktu, kita hanya bisa merenungi peradaban baru yang membawa bangsa ini semakin bodoh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;Negara Berkebudayaan &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;KEBUDAYAAN dapat dilihat bagaimana warga berbuat sesuatu yang bermakna (sebagai proses) dan hasil perbuatan (produk). Manakala perbuatan dan hasilnya ini dicitrakan melekat pada kolektivitas suatu bangsa, maka disebut sebagai kebudayaan bangsa (nasional). Persoalan kebudayaan nasional perlu ditempatkan dalam arus besar kebudayaan global yang didorong oleh spirit neoliberalisme. Pengadopsian budaya global tidak terelakkan. Umumnya rezim negara yang korup didukung oleh kekuatan global, sepanjang negara terjamin menjadi pasar. Bagi kebanyakan penguasa, keadaan ini lebih menguntungkan sebab tanpa perlu membangun budaya bangsa, toh, dapat menjadi konsumen baik budaya warisan (heritage) maupun global.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Kebudayaan memang praktik warga sehari-hari. Namun, peranan penyelenggara negara sangat penting mengingat proses menyiapkan warga agar dapat berpraktik budaya (berbudaya) merupakan tugas utama negara. Makna kebudayaan yang pada hakikatnya mengandung nilai positif bagi kehidupan dikembangkan dalam tiga dimensi, yaitu keilmuan, etika, dan estetika. Dimensi keilmuan dilihat dari capaian-capaian pengetahuan dan teknologi, etika dengan penghayatan kebaikan universal dan multikultural dalam kehidupan nasional, serta estetika dengan apresiasi keindahan yang meningkatkan harkat kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Begitulah kegiatan budaya pada hakikatnya bagaimana warga berkiprah dan menghasilkan sesuatu yang bermakna dalam ketiga dimensi tersebut. Maka, persoalan kebudayaan adalah bagaimana menghadirkan warga dengan kapasitas tertentu untuk dapat terlibat di dalamnya. Penyiapan warga inilah disebut sebagai proses pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Menempatkan kebudayaan sebagai ranah yang terpisah dari proses pendidikan, sebagaimana dianut pemerintahan Megawati, boleh jadi karena mendefinisikan kebudayaan sebagai produk, bukan sebagai proses. Produk memang lebih mudah dan berharga untuk dijual, apalagi jika berasal dari warisan. Namun, pemerintah dapat terjebak dalam dimensi tunggal, pendidikan dipandang hanya melalui satu departemen, sehingga melalaikan masalah yang paling mendasar, yaitu pendidikan sebagai proses menyiapkan warga berbudaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Kata kunci bagi warga berbudaya adalah kecerdasan. Karena itu, sungguh jenial gagasan pendiri (founding fathers) Republik Indonesia yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai: ".... membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia..." Dengan empat tujuan membentuk pemerintahan semacam itu ada guyonan bahwa "kabinet" yang diperlukan hanyalah bidang "politik dalam negeri" yang dapat melindungi warga dan wilayah, "kesra" yang dapat menciptakan peluang-peluang bagi kesejahteraan warga, "kebudayaan" yang dapat mencerdaskan warga, dan "politik luar negeri".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Definisi "mencerdaskan kehidupan bangsa" ini setelah hampir 60 tahun merdeka diartikan dalam kerangka sempit sebagaimana pemikiran tahun 1940-an. Bukalah Bab Pendidikan, Pasal 31: "1. Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran; 2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan Undang-undang." Pendidikan diartikan sebagai pengajaran, sedang kebudayaan, dalam Pasal 32: "Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia." Dalam penjelasan tercermin kebudayaan dilihat sebagai produk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;CARA pandang yang mempersempit pendidikan sebagai pengajaran, dan kebudayaan sebagai produk, menjadi pangkal dari pengabaian suatu strategi kebudayaan dalam kehidupan negara. Strategi kebudayaan menyangkut pengembangan budaya melalui berbagai institusi negara dan masyarakat. Untuk itu dilihat dalam dua cara, pertama, institusi yang perlu memiliki budaya yang menggerakkannya secara internal. Ini berlaku untuk institusi yang berkaitan dengan kehidupan publik, baik institusi negara maupun korporasi bisnis dan organisasi masyarakat sipil. Kedua, institusi yang secara eksternal memiliki fungsi dalam penumbuh kembang budaya warga, yaitu institusi pendidikan (persekolahan) dan media massa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Pengabaian aspek pertama tercermin dari anomali dalam berbagai penyelenggaraan kehidupan publik. Birokrasi negara sepanjang Orde Baru mengadopsi tata cara dan etiket bertindak, termasuk istilah-istilah dari produk budaya Jawa, tetapi tidak berusaha mengembangkan budaya birokrasi untuk menggerakkan institusi ini. Pasca-Orde Baru, anomali ditunjukkan melalui perbuatan menyimpang yang meluas oleh anggota parlemen daerah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Begitu pula pada aspek kedua, ketiadaan strategi kebudayaan ini tercermin dari institusi pendidikan yang berjalan sendiri-sendiri. Jutaan generasi muda (Islam) belajar di sekolah- sekolah yang sekaligus belajar agama dan keilmuan, berada di bawah naungan Departemen Agama yang disibuki mengurus jemaah haji setiap tahun. Padahal, anak-anak yang sekolah di madrasah dan pesantren berhak mendapat pendidikan yang sejajar dengan sekolah keilmuan umum yang berada di bawah Departemen Pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Fungsi dari institusi pendidikan sekolah adalah memproses warga agar memiliki kemampuan berpraktik kebudayaan, dengan orientasi utama untuk dimensi keilmuan, disusul kemudian dimensi etika dan estetika. Dengan begitu, beban "dosa" dari institusi pendidikan secara keseluruhan adalah melalui kemunduran kebudayaan yang ditunjukkan melalui urutan: Pertama, rendahnya kegiatan dan hasil keilmuan dari suatu bangsa. Kedua, orientasi etika dalam proses pendidikan yang menghasilkan sikap eksklusif dan sektarian di tengah masyarakat majemuk dan global. Ketiga, selera estetika warga masyarakat yang semakin rendah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Oleh karena itu perlu strategi kebudayaan yang dijalankan untuk menggerakkan seluruh institusi pendidikan untuk tujuan yang sama, baik yang berbasis umum maupun keagamaan. Langkah raksasa yang mendesak adalah memprioritaskan pembangunan institusi pendidikan berbasis agama Islam (madrasah dan pesantren) yang termarjinalisasi. Jika secara sosiologis mayoritas warga beragama Islam, maka bagian terbesar biaya pendidikan tentunya harus ke sini. Fasilitas untuk pendidikan ganda (dual education) dengan sendirinya memerlukan dukungan pembiayaan negara yang lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Institusi pendidikan lainnya dalam proses kebudayaan adalah media massa. Fungsinya biasa dilihat dengan dua cara, secara negatif adalah terjaga independensinya agar kekuasaan negara tak melakukan dominasi informasi dan hegemoni alam pikiran warga. Dengan kata lain, penguasa negara "haram" hukumnya melakukan propaganda melalui media yang dikuasainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Sementara dari fungsi secara positif, media massa dibedakan, pertama, media pers yang membawa khalayak ke ruang publik (public sphere); dan kedua, media hiburan yang memberikan kesenangan psikis. Masing-masing membawa "beban" budaya, yaitu pertama menumbuhkan rasionalitas dalam menghadapi fakta di ruang publik, sedangkan yang kedua menumbuhkan penghayatan etika dan estetika dalam kehidupan warga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Kedua fungsi ini biasanya tidak dapat berjalan secara optimal akibat dorongan komersial. Dari sinilah muncul tuntutan adanya media publik, yaitu institusi yang sepenuhnya diorientasikan untuk menumbuhkan rasionalitas warga di ruang publik serta orientasi etika dan estetika dalam fungsi psikis bagi publik. Media semacam ini jauh dari modal komersial, sepenuhnya digerakkan modal sosial ataupun pembiayaan negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Di tengah masyarakat majemuk, keberadaan media publik ini semakin dirasakan penting untuk menjalankan orientasi multikultural dan menumbuhkan masyarakat terbuka. Kalau saat ini di antara media publik yang disebut dalam UU Penyiaran adalah TVRI, sementara pemerintah malah menjadikannya sebagai korporasi pesero, sudah selayaknya langkah ini dikoreksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 255, 255);font-size:100%;" &gt;Sumber: http://athika-unindrabio2a.blogspot.com/2008/07/nilai-etika-dan-estetika&lt;/span&gt; &lt;p style="color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Ashadi Siregar&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-2271852324690455854?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/2271852324690455854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=2271852324690455854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/2271852324690455854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/2271852324690455854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/permendiknas-no24-tahun-2006.html' title='Nilai Etika dan Estetika dalam Kebudayaan...'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-8952998204058249415</id><published>2008-06-26T21:03:00.000-07:00</published><updated>2008-06-26T21:14:41.030-07:00</updated><title type='text'>Peristiwa dan Kejadian Unik...^_^</title><content type='html'>&lt;div class="post" id="post-130"&gt;      &lt;h2&gt;&lt;a href="http://iisk4.wordpress.com/2008/06/19/peranan-media-tv-dalam-pendidikan-di-indonesia/" rel="bookmark" title="PERANAN MEDIA TV DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA"&gt;PERANAN MEDIA TV DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;div class="postinfo"&gt; Ditulis pada &lt;span class="postdate"&gt;Juni 19, 2008&lt;/span&gt; oleh iisk     &lt;/div&gt;      &lt;div class="entry"&gt;       &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Peranan teknologi dalam dunia pendidikan memang sudah sedemikian tinggi di banyak negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Misalkan saja internet. Teknologi yang satu ini memang begitu populer. Efektivitasnya sangat bagus dibandingkan dengan teknologi yang lain, (bukan bermaksud untuk merendahkan peranan teknologi lain terhadap pendidikan). Misalkan TV.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Dibandingkan dengan internet, peranan media TV di Indonesia dirasakan sangat kurang. Ada memang media TV yang khusus menayangkan program pendidikan, dan hal itu harus diacungi jempol. Salut. Namun berapa banyak media TV yang mau menayangkan program seperti itu? Bandingkan dengan stasiun TV yang lain (memang orientasinya pada profit). Tentu mereka akan geleng kepala. Kalau toh ada, prosentasenya kecil. Namun sekali lagi, sekecil apapun bentuknya kita patut memberikan apresiasi yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Simak saja salah satu tayangan pendidikan yang dikemas dalam bentuk kuis, dimana acara yang dipandu oleh Helmi Yahya tersebut disponsori oleh salah satu produsen susu. Begitu atraktif dan menarik, tanpa ada kesan menggurui. Acara tersebut juga tidak “berat” untuk disimak oleh adik-adik pelajar kita. Sungguh acara yang patut dipertahankan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Muncul pula acara-acara yang penuh dengan nilai pendidikan di stasiun TVE. Patut diacungi jempol kepada siapapun yang berperan di dalamnya. Dari waktu ke waktu acaranya kian bagus secara kualitas, walaupun perlu juga diperhatikan sisi entertain-nya agar pemirsa tidak bosan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; juga TVRI yang menayangkan acara pendidikan. Walaupun keberadaannya mungkin telah tergeser oleh banyaknya TV swasta, namun kepedulian terhadap pendidikan masih terasa. Ditengah kurangnya minat pemirsa, mereka masih berusaha eksis dengan menampilkan ragam pendidikan dan budaya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Ulasan tersebut adalah respon penulis terhadap peranan TV dalam dunia pendidikan kita di masa kini. Di masa lalu, ada stasiun TV swasta yang begitu konsern dalam dunia pendidikan kita. Terlepas keberadaannya yang saat itu “numpang” TVRI, namun acaranya sangat bagus. Saat itu di era 80-an, tepatnya tahun 1988. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Dari segi kualitas acaranya, penulis berpendapat tidak ada yang kurang. Dari sisi entertain juga bagus. Berimbang antara materi yang tidak terkesan menggurui dan segi entertain yang tidak mendominasi acara. Sungguh suatu acara yang sangat disayangkan, karena kini tidak terdengar lagi gaungnya. Sudah tenggelam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Bagaimana dengan ke depan? Entahlah, semoga ada pihak-pihak yang peduli. Pihak sponsor dan media semestinya duduk semeja merundingkan hal ini tanpa harus terlalu sibuk pada money oriented. Paling tidak untuk sejenak, toh ada acara yang didukung oleh sponsor dan jalan dengan bagus. (acara dibawakan oleh Helmi Yahya). Mungkin apresiasi setinggi-tingginya perlu penulis tujukan kepada Bang Helmi dan siapapun itu (sponsor dan stasiun TV) yang berada di belakang acara tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;            &lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;      &lt;div class="post" id="post-128"&gt;      &lt;h2&gt;&lt;a href="http://iisk4.wordpress.com/2008/06/18/semalam-bersama-leak-bali/" rel="bookmark" title="SEMALAM BERSAMA LEAK BALI"&gt;SEMALAM BERSAMA LEAK BALI&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;div class="postinfo"&gt; Ditulis pada &lt;span class="postdate"&gt;Juni 18, 2008&lt;/span&gt; oleh iisk     &lt;/div&gt;      &lt;div class="entry"&gt;       &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Sebuah Kisah Nyata&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Selepas UN, 95% siswa kelas tiga sebuah SMK di Jatim (tempat saya mengabdi) mengadakan rekreasi ke Pulau Dewata Bali. Dengan mengendarai empat buah bus pariwisata kami berangkat pukul 13.30 WIB. Beragam keceriaan kami ekspresikan selama dalam perjalanan hingga kami tiba di Sanur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Lama waktu tempuh dan lelah semalam di perjalanan terbayar di Pantai ini. Kami menyaksikan satu fenomena alam yang indah, berupa mentari terbit. Segala lelah dan letih selama dalam perjalanan berganti ucapan syukur dan ungkapan kekaguman atas ciptaan Sang Maha Kuasa. Senyum dan rona bahagia terpancar dari kami semua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Malamnya selepas kami menghabiskan waktu dengan mengunjungi beberapa tempat wisata, kami tidur di hotel. Rasa lelah akibat perjalanan begitu terasa, apalagi kami baru saja menikmati sebuah pesta kecil di restauran. Sebuah cita-cita mulia kami usung: &lt;strong&gt;tidur nyenyak!!&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Namun angan-angan hanyalah sebatas impian. Cita-cita tak tersampaikan. Bak lagu Padi: Kasih Tak Sampai, kami merana. Penyebab kami merana cuma satu: Leak Bali. Ya, kami dihantui Leak Bali selama semalam!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Entah mengapa leak itu begitu demen sama kami. Mungkin salah satu atau dua dari kami berbuat sesuatu yang kurang menyenangkan, sehingga keberadaan kami dianggap mengganggu. Atau mungkin mayoritas siswa kami (98%) adalah cewek. Entahlah, satu yang jelas bahwa &lt;span&gt;   &lt;/span&gt;cita-cita kami kandas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Cerita berawal dari pukul 11.00 waktu setempat. Setelah saya bersama rekan-rekan melakukan pemeriksaan dan pengecekan terhadap seluruh peserta wisata (siswa kami), kamipun tidur. Sebelumnya kami sempat bertukar kamar dengan siswa kami. Keempat siswa tersebut begitu ngotot minta ganti kamar, karena mereka bilang kamar mereka aneh. Mereka merasa tidak nyaman. Akhirnya kamipun mengalah. Dari yang sebelumnya tidur di kamar dengan fasilitas lengkap (kamar AC, TV, dan shower) berganti dengan kamar kelas II. Namun tak apa, toh mereka adalah siswa kami. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Di kamar hotel yang berpenghuni empat orang itu, saya bersama tiga rekan (yang satu siswa, karena dia satu-satunya cowok di antara sekian ratus siswa cewek) saya mulai merebahkan diri setelah menikmati kopi dan rokok kesayangan. Dialog utara-selatan (ngobrol ngalor-ngidul) antar pria, lantas tidur. Namun hal itu tidak berlangsung lama, 10 menit kemudian terdengar beberapa langkah kaki yang begitu terburu-buru. Mungkin mereka berlari. Terdengar pula jeritan mereka. Itu siswa kami!! Mereka berteriak minta dibukakan pintu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Pintupun dibuka, dan mereka berhamburan masuk dengan wajah ketakutan. Tanpa mempedulikan status lagi (guru – siswa, pria – wanita), mereka berhamburan ke ranjang kami sambil menutup tubuh mereka dengan selimut. Sesuatu telah terjadi!! Itu pasti!! Ternyata mereka melihat “sesuatu” di dalam lemari mereka yang secara tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Setelah mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi, mereka kami ijinkan untuk tidur di kamar kami. Satu ranjang untuk keempat siswa, lainnya untuk kami. Dua dari kami bahkan tidur di lantai yang dingin. Uhhff!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Tak berapa lama, hal aneh lain menyusul terjadi. Lolongan dan gonggongan anjing sahut-menyahut terdengar di depan pintu kamar kami. Seketika itupun bulu kuduk kami merinding. Keempat siswa kamipun semakin ketakutan. Akhirnya dua di antara kami memutuskan untuk keluar. Namun yang terjadi adalah, begitu pintu terbuka tak satupun batang hidung anjing itu yang nampak. Sunyi senyap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Kami berkeliling untuk memastikan keberadaan anjing-anjing itu, (saya tetap didalam menunggui siswa kami), hasilnya sama: tidak ada anjing. Kami masuk dan pintupun ditutup. Belum kelar kami menguci pintu, lolongan spontan terdengar lagi. Begitu seram dan menakutkan. Akhirnya kami sepakat untuk mengingkari cita-cita kami: kami harus begadang semalaman. Bahhh!!!! Sekali lagi: Bahhhhh!!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Waktu berlalu, suara lolongan anjing menghilang dengan sendirinya. Kami merasa agak tenang. Tapi teror agaknya tidak berhenti disitu. Tiba-tiba hujan turun dengan deras, walau sebentar. Tak lama reda, peristiwa lain terjadi. Satu-satunya siswa cowok kami kesurupan. Walah, ini leak kok merasuki tubuh cowok!! Kami sampai repot dibuatnya. Tiba-tiba “ia” menyembah minta maaf salah satu rekan saya, lantas meninjunya. Waduh…..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Karena kerepotan, rekan saya menghubungi salah satu guru senior yang cukup mengerti. Akhirnya “siswa” tersebut dapat teratasi. Syukur….. Guru senior itupun kembali dengan satu pesan, agar kami lebih siap kalau nanti ada apa-apa. Siap grak!!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Kesiapan yang kami bangun mendapat ujian. Kalau tadi yang kesurupan cowok, kini gantian yang cewek. Waduh, repot nih!!!! Ia ngedumel pengen ketemu “ibu”. Walah-walah…. Namun sekali lagi syukur, kami mampu mengatasinya dengan baik. (Jangan sangka kami pemberani, kami ini juga amat takut!!!).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi waktu setempat. Satu siswa kami (cowok yang barusan kesurupan) ternyata pengen ke kamar mandi. Memang kamar mandinya ada di dalam kamar, namun terasa banget adanya “nuansa” lain dari dalam kamar mandi. Siswa kami yang hampir sampai tiba di depan pintu kamar mandi secara tiba-tiba terlempar sejauh tiga langkah ke belakang. Bergegas dengan wajah pucat ia segera tiarap di pangkuan saya. Badannya penuh dengan keringat dingin. Weleh-weleh, rupanya …..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Ternyata di kamar mandi ada sosok yang lagi nongkrong di atas WC duduk. Wah, ternyata: &lt;strong&gt;LEAK!!! &lt;/strong&gt;Pantas saja!!! Suasana tegang lagi. Namun untungnya leak itu tidak menampakkan diri lagi. Syukur….. (Sebenarnya saya pengen juga pipis, namun saya tahan karena lagi down).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Untuk mencairkan suasana, kami mencoba bercanda, berkelakar, termasuk juga siswa kami. Jadi deh semalam itu kami tidak tidur. Berbagai guyonan yang ada dikepala kami, dikeluarkan semuah. Alhasih, suasana mulai cair dan kami melupakan (paling tidak untuk sejenak) semua kejadian yang menimpa kami. Sudah selesaikah? Ternyata belum!! Masih ada satu hal lagi, yang tiba-tiba membuat kami terkesima walau sekejab. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Suara handphone berdering (alram mode) dengan suara tawa wanita yang khas. Hi hi hi hi ….Waduh….. Setelah kami sadar bahwa itu adalah handphone, segera handphone itu dimatikan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Disinilah yang aneh. Setelah di cek, ternyata di handphone itu tidak ada satu file pun nada panggil dengan model tawa cewek ketawa. Walah…. Puyeng …. Dan esoknya, ternyata siswa yang tinggal di sebelah kamar kami tidak mendengar apa-apa, pun suara anjing yang melolong…. Dasar aneh tapi nyata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;            &lt;h2&gt;&lt;a href="http://iisk4.wordpress.com/2008/06/17/stip-jakarta/" rel="bookmark" title="STIP JAKARTA"&gt;STIP JAKARTA&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;div class="postinfo"&gt; Ditulis pada &lt;span class="postdate"&gt;Juni 17, 2008&lt;/span&gt; oleh iisk     &lt;/div&gt;             &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Link Video STIP: &lt;a href="http://youtube.com/watch?v=q9u8qfo6FPI"&gt;http://youtube.com/watch?v=q9u8qfo6FPI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Belumlah hilang rasa kaget akan hadirnya kekerasan di lingkungan pendidikan oleh gank nero, hadir lagi kekerasan baru di lingkungan pendidikan. Kali ini di Jakarta Utara, STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran). Nyaris sama dengan yang terjadi di IPDN, senioritas mendominasi jalannya kekerasan. Aksi pukul sudah jadi hal yang biasa, bahkan dianggap sudah menjadi budaya. Dengan dalih kedisiplinan, senior sudah merasa layak untuk menghukum yuniornya. Tragis!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Yang lebih memilukan lagi, aksi kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan tanpa sepengetahuan pendidik. Sungguh suatu potret buram yang semakin kelam. Ironisnya lagi, aksi tersebut sengaja direkam dengan sebuah kamera, beberapa lagi menggunakan handpone. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas bukan untuk dipublikasikan keluar. Jadi dalam hal ini, mereka kecolongan dengan beredarnya video tersebut, yang bahkan sudah dipublikasikan oleh salah satu TV swasta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;BUDAYA KEKERASAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Kekerasan adalah salah satu bentuk premanisme. Jika aksi kekerasan sudah terjadi di lingkungan pendidikan dan sudah menjadi budaya, maka dapat disimpulkan bahwa premanisme sudah menjadi budaya di lingkungan pendidikan kita, (tentu tidak semua). Mari kita coba ingat apa yang terjadi di IPDN, yang terjadi lebih dari dua kali itu, lantas gank motor di Bandung, ada Gasper, Nero, lalu di STIP Jakarta Utara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Aksi kekerasan sepertinya sudah jadi budaya, terjadi secara turun-temurun dari senior ke yunior, begitu terjadi setiap tahun. Tongkat estafet terus bergerak dari waktu ke waktu, hingga akhirnya waktu pula yang mampu (sejenak) menghentikan laju tongkat estafet tersebut. IPDN sempat berhenti (melakukan kekerasan), namun waktu membuktikan budaya yang sudah mengakar tersebut sulit untuk dihilangkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;STIP Jakarta memang ketahuan melakukan aksi kekerasan baru saat ini. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa aksi tersebut sudah lama terjadi. Bisa pula ada kemungkinan bahwa peristiwa tersebut akan terjadi lagi, (tentu semoga hal itu tidak terjadi). Jika asumsi saya memang benar, tentu betapa beratnya memberangus budaya tersebut. Sulit dan suatu pekerjaan yang berat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Penulis berpendapat bahwa aksi tersebut adalah hasil dari turunan seniornya dari tahun-tahun sebelumnya. Bisa kita rasakan waktu kita mengenyam pendidikan mulai dari tingkat SLTP. Di tingkat ini sudah ada yang namanya perploncoan. Aksi aneh bin extrem bakal diperlihatkan senior kepada yuniornya, (senioritas selalu “minta” dijunjung tinggi untuk menunjukkan eksistensi mereka). Mulai dari memakai kalung tali rafia yang di beri bawang merah, pakai topi dari keranjang bambu dan aksi edan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Dari kacamata yunior, aksi senior mereka merupakan hal yang tak terlupakan. Sudah menjadi hukum tak tertulis bahwa kelak jika mereka sudah naik ke jenjang yang lebih tinggi, mereka akan memberlakukan adik kelas mereka lebih parah dari apa yang mereka terima sekarang ini. Dan itu suatu keharusan yang mutlak untuk dilakukan. Mungkin selain sebagai ajang menunjukkan senioritas, MOS juga digunakan sebagai ajang balas dendam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Hal tersebut merupakan suatu bibit yang menyuburkan budaya kekerasan di dunia pendidikan kita, khususnya siswa. Mungkin jika mereka masih tingkat SLTP, aksi mereka belum bisa disebut ekstrem. Namun jika hal tersebut dibiarkan, tidak menutup kemungkinan aksi tersebut akan menjadi liar seperti yang terjadi kali ini di STIP maupun di lembaga pendidikan lain di Indonesia. Suatu pekerjaan rumah yang sangat berat dan rumit untuk dipecahkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Semua elemen bangsa harus membuka mata terhadap masalah ini. Harus dicari akar permasalahan untuk kemudian dicarika solusi tepat, agar masalah tersebut tidak terjadi di tahun mendatang. Dari pengamatan penulis sebagai seorang yang awam, waktu membuktikan bahwa kekerasan dan praktik premanisme di dunia pendidikan semakin berkembang dari tahun ke tahun. Untuk itulah sekali lagi semua elemen bangsa harus mencari solusi masalah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:12;"  &gt;Mungkin dengan menghilangkan sistem perploncoan dari dunia pendidikan kita akan sedikit mengurangi ruang kekerasan di dunia pendidikan. Sebab dari situlah aksi balas dendam dan pelampiasan dari jati diri di mulai. Dari situ pula harus diberantas. Memang penyebab kekerasan di dunia pendidikan tidak hanya masalah perploncoan, namun paling tidak dengan dihilangkannya sistem perploncoan dari pendidikan, akan berkurang angka premanisme didunia pendidikan kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:12;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;Sumber: http://iisk4.wordpress.com/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-8952998204058249415?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/8952998204058249415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=8952998204058249415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/8952998204058249415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/8952998204058249415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/peristiwa-dan-kejadian-unik.html' title='Peristiwa dan Kejadian Unik...^_^'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-907803053948237958</id><published>2008-06-23T01:53:00.001-07:00</published><updated>2008-06-23T01:55:39.568-07:00</updated><title type='text'>Mencetak Generasi Unggul ala Jepang!!</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0.5cm;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b&gt;Oleh Arman Andi Amirullah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.5cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Kamis, 8 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kekeliruan dunia pendidikan kita selama ini terletak pada ketidakmampuan para pakar pendidikan, pendidik, bahkan pengambil kebijakan untuk mencetak generasi unggul. Generasi ini punya ciri kreatif, perekayasa, pencipta, dan bersikap atau bertingkah laku teladan. Selain berbudi pekerti luhur, generasi unggul dalam kehidupan keseharian dicirikan peduli sesama, menghargai pendapat orang lain, tertib, jujur, disiplin, bertanggung jawab, penuh kasih sayang, cinta kebersihan, keindahan dan lingkungan serta concern terhadap perdamaian. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;dl style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sayang  seribu sayang, dunia pendidikan kita tampaknya masih terfokus  mencetak "generasi pintar". Generasi ini lebih  mengutamakan pencapaian prestasi program belajarnya dengan sasaran  "mengejar ranking atau nilai NEM (nilai evaluasi murni) dan UN  (ujian nasional) tinggi" atau menjadi juara lomba mata  pelajaran tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Indonesia  banyak melahirkan sederet juara olimpiade internasional, baik di  bidang pelajaran matematika, sains, fisika, kimia maupun olahraga.  Pertanyaannya, dengan mencetak generasi yang bertumpu pada logika  (otak kiri) itu, apa yang bisa diharapkan demi kemajuan bangsa ke  depan? Kita lupa, bangsa yang dibangun hanya dengan mengandalkan  ilmu, tanpa bekal kreativitas dan moral, hanya akan menghancurkan  bangsa itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut  penelitian mutakhir di AS, peran logika bagi sukses seseorang hanya  4%. Selebihnya (96%) sukses seseorang ditentukan oleh kemampuan  "otak kanan" yang punya andil besar dalam hal kreativitas,  imajinasi, inovasi, daya rasa, kreasi, seni, kemampuan mencipta dan  merekayasa. (MI, 16/1'06) Kemampuan otak sadar manusia sendiri  sebenarnya hanya 12% dari seluruh kemampuan otak manusia dan  selebihnya (88%) berada di otak bawah sadar, tepatnya di otak kanan.  (Quantum Ikhlas, 2007). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Inilah  rahasia bangsa Jepang, Korea, China, Singapura, dan negara-negara  Barat hingga menjadi bangsa maju. Belakangan hal itu mulai diketahui  dan disadari pula di India, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan  Filipina. Indonesia? Barangkali baru sebagian kecil orang memahami  pentingnya pengembangan peran otak kiri bagi sebuah sistem  pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ironis,  di tengah bangsa-bangsa lain makin aktif mengembangkan model  pendidikan ke arah yang lebih baik, Indonesia justru masih berkutat  pada berbagai masalah kompleks. Waktu, pikiran dan tenaga kita  seolah terkuras hanya untuk membahas masalah pemberantasan korupsi,  karut-marutnya pelayanan publik dan masalah birokrasi yang berbelit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apa  yang salah dengan pendidikan kita? Bukankah sejak duduk di kelas TK,  SD, SMP, dan SMA siswa-siswi selain diajarkan beberapa pelajaran  umum dan khusus juga tak ketinggalan selalu dicekoki pelajaran agama  dan kewarganegaraan? Suasana religius pun selalu melingkupi  keseharian anak-anak Indonesia. Khotbah-khotbah agama tak hanya  dilakukan di tempat-tempat ibadah, namun juga di televisi,  lingkungan kerja dan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini  bertolak belakang dengan kehidupan nyata masyarakat kita, yang  justru kurang mencerminkan nuansa kehidupan agamis. Budaya tertib  dan bersih, yang diyakini sebagai bagian dari iman, terabaikan.  Tatanan kehidupan masyarakat secara umum pun tidak menunjukkan  kebajikan dan keteraturan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pelanggaran  lalu lintas merupakan hal yang biasa. Budaya antre dan sopan-santun  dianggap angin lalu. Kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan  lingkungan, rendah. Banyak orang masih membuang sampah sembarangan,  sementara fasilitas umum kotor dan bau. Di lain pihak, kasus-kasus  perusakan lingkungan dan kriminalitas jalanan selalu menghiasi media  massa setiap hari. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari  pengalaman ketika berkunjung ke Jepang dan mencermati secara seksama  sekolah dasar di negeri Sakura ini, terlihat pembiasaan sikap  disiplin dan tingkah laku bermoral telah ditanamkan sejak siswa  mulai masuk sekolah. Meski tak dibekali pelajaran agama, tatanan  kehidupan masyarakat Jepang nyatanya lebih mapan, tertib, bermoral.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Begitu  anak didik memasuki lingkungan sekolah, mereka harus rela dan sabar  melepas sepatu untuk ditukar dengan sandal/sepatu khusus yang sudah  disediakan di loker-loker. Ketika siswa hendak ke toilet,  sandal/sepatu yang dikenakannya pun masih harus ditukar lagi dengan  sandal khusus toilet yang terparkir rapi di depan pintu toilet.  Ingat, usai memakainya, siswa harus mengembalikannya ke posisi  semula untuk memudahkan rekan lain yang akan menggunakan  selanjutnya. Meski kelihatannya sepele, namun pembiasaan-pembiasaan  ini dapat menumbuhkan kesadaran pada siswa untuk bersikap sabar,  bertanggung jawab, menghargai orang lain, hidup bersih dan selalu  menjaga kesehatan tubuh. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di  dalam kelas sendiri, anak-anak Jepang sudah dibiasakan melayani  teman-teman sekelasnya dengan menyajikan makanan secara bergiliran.  Pembiasaan ini untuk menanamkan kesadaran anak-anak agar tertib,  disiplin, menghargai budaya antre, rajin, penuh kebersamaan dan  peduli sesama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di  kelas-kelas sekolah Jepang banyak dipajang hasil karya siswa, baik  di dinding maupun di atas rak-rak tempat tas siswa. Coraknya  beraneka ragam, mulai dari karya dari barang-barang bekas dengan  disain robot, mobil, dan bangunan tinggi hingga bentuk-bentuk karya  lainnya yang lebih rumit. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pembiasaan  memamerkan hasil cipta karya siswa, merupakan momentum bagi siswa  untuk meraih cita-cita. Lewat karya-karya tersebut, anak-anak Jepang  kelak diharapkan bisa menjadi perakit mobil, robot, arsitek  gedung-gedung bertingkat dan pencipta alat-alat canggih lainnya  hingga menjadi kebanggaan bagi bangsanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Memang,  kemampuan untuk berkreasi mendapat porsi besar dalam sistem  pendidikan di Jepang. Sejak dini kemampuan dan kreativitas siswa  digali sebesar-besarnya demi disiapkan sebagai tenaga terampil penuh  kreativitas di bidang masing-masing di masa depan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Falsafah  Jepang mengatakan, "Anak-anak adalah harta karun negara".  Nasib bangsa masa depan diyakini ada di pundak anak-anak mereka.  Maka, negara selalu memperlakukan istimewa anak-anak Jepang, baik  dibidang pendidikan, kesehatan, gizi, maupun perkembangan  emosionalnya. Sistem pendidikan nasional Jepang pun lebih diarahkan  demi kemajuan anak-anak bangsa ke depan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd style="margin-bottom: 0.5cm; text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apakah  kita akan terus membiarkan sistem pendidikan ini lebih bertumpu pada  logika, tanpa mengutamakan penggalian kemampuan dan kreativitas  seperti anak-anak Jepang? ***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="right"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah staf Direktorat Pembinaan TK dan SD,&lt;br /&gt;Ditjen Mandikdasmen, Depdiknas.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=199101&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-907803053948237958?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/907803053948237958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=907803053948237958' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/907803053948237958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/907803053948237958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/mencetak-generasi-unggul-ala-jepang.html' title='Mencetak Generasi Unggul ala Jepang!!'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-7933475820640631637</id><published>2008-06-23T01:51:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T01:52:51.669-07:00</updated><title type='text'>Perbedaan Kurikulum 2004 dan 2006</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Banyak kalangan, termasuk aparat Depdiknas dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota membuat &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; bahwa Kurikulum 2004 (atau KBK) tidak terlalu jauh berbeda dengan Kurikulum 2006 yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan baru ditetapkan pemberlakuannya oleh Mendiknas melalui Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2006 tanggal 2 Juni 2006. Saya tidak tahu, apakah penyataan mereka itu dimaksudkan untuk “menghibur guru” agar tidak resah menghadapi perubahan kurikulum ini. Mengingat Kurikulum 2004 ini masih dalam taraf ujicoba yang lebih luas sejak tahun pembelajaran 2004/2005 dan belum semua sekolah sudah menerapkan secara utuh Kurikulum 2004. Namun apa daya, kini sudah dimunculkan kurikulum baru, Kurikulum 2006. Sehingga muncullah &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; yang “menghibur” tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Hal ini adalah ironis, karena menunjukkan pemahaman yang sangat dangkal mereka terhadap Kurikulum 2006 tersebut. Saya menduga mereka hanya “mengulang-ulang” pernyataan dari BSNP, aparat Pusat Kurikulum, Pejabat Depdiknas yang bermaksud meredam agar Kurikulum 2006 tidak mendapat tentangan dari ujung tombak pendidikan : guru dan sekolah, atau gejolak yang meresahkan masyarakat dan dunia pendidikan. Jika saja mereka sudah melakukan pembandingan secara mendalam kedua kurikulum tersebut, niscaya mereka akan mengatakan bahwa Kurikulum 2004 dengan Kurikulum 2006 berbeda secara nyata, secara signifikan. Memang harus diakui dalam beberapa hal ada kesamaan atau kemiripan antara keduanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Berikut ini saya rangkum perbedaan dan persamaan antara Kurikulum 2004 dan Kurikulum 2006 (periksa tabel)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;a name="more-10"&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Tabel : Perbandingan Kurikulum 2004 dan 2006&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="7" cellspacing="0" width="574"&gt;  &lt;col width="129"&gt;  &lt;col width="202"&gt;  &lt;col width="199"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;ASPEK&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;p align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;KURIKULUM 2004&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;KURIKULUM 2006&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1. Landasan Hukum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tap MPR/GBHN&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahun     1999-2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU No. 20/1999 – Pemerintah-an     Daerah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU Sisdiknas No 2/1989 kemudian diganti     dengan UU No. 20/2003&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PP No. 25 Tahun 2000 tentang pembagian     kewenangan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;UU No. 20/2003 – Sisdiknas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PP No. 19/2005 – SPN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Permendiknas No. 22/2006 –     Standar Isi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Permendiknas No. 23/2006 – Standar     Kompetensi Lulusan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2. Implementasi / &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bukan dengan Keputusan/     Peraturan Mendiknas RI &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:TimesNewRoman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keputusan     Dirjen Dikdasmen No.399a/C.C2/Kep/DS/2004 Tahun 2004.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:TimesNewRoman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keputusan     Direktur Dikme-num No. 766a/C4/MN/2003 Tahun 2003, dan No.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;     &lt;span style="font-family:TimesNewRoman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1247a/ C4/MN/2003     Tahun 2003.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peraturan Mendiknas RI No. 24/2006 tentang     Pelaksanaan Peraturan Menteri No. 22 tentang SI dan No. 23     tentang SKL &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3. Ideologi Pendidik-&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;an yang Dianut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Liberalisme Pendidikan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;:     terciptanya SDM yang cerdas, kompeten, profesional dan kompetitif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Liberalisme Pendidikan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;:     terciptanya SDM yang cerdas, kompeten, profesional dan kompetitif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4. Sifat (1)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cenderung Sentralisme Pendidikan     : Kurikulum disusun oleh Tim Pusat secara rinci; Daerah/Sekolah     hanya melaksanakan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cenderung Desentralisme Pendidikan : Kerangka     Dasar Kurikulum disusun oleh Tim Pusat; Daerah&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan     Sekolah dapat mengembangkan lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5. Sifat (2)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kurikulum disusun rinci oleh Tim Pusat     (Ditjen Dikmenum/ Dikmenjur dan Puskur)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kurikulum merupakan kerangka     dasar oleh Tim BSNP&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6. Pendekatan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berbasis Kompetensi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terdiri atas : SK, KD, MP dan     Indikator Pencapaian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berbasis Kompetensi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hanya terdiri atas : SK dan KD. Komponen lain     dikembangkan oleh guru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7. Struktur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berubahan relatif banyak     dibandingkan kurikulum sebelumnya (1994 suplemen 1999)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada perubahan nama mata     pelajaran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada penambahan mata pelajaran (TIK) atau     penggabungan mata pelajaran (KN dan PS di SD)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penambahan mata pelajaran untuk Mulok dan     Pengem-bangan diri untuk semua jenjang sekolah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada pengurangan mata pelajaran (Misal TIK di     SD)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada perubahan nama mata     pelajaran &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KN dan IPS di SD dipisah lagi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada perubahan jumlah jam     pelajaran setiap mata pelajaran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;8.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beban Belajar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jumlah Jam/minggu :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SD/MI = 26-32/minggu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SMP/MTs = 32/minggu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SMA/SMK = 38-39/minggu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lama belajar per 1 JP:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SD = 35 menit&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SMP = 40 menit&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SMA/MA = 45 menit&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jumlah Jam/minggu :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SD/MI 1-3 = 27/minggu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SD/MI 4-6 = 32/minggu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SMP/MTs = 32/minggu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SMA/MA= 38-39/minggu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lama belajar per 1 JP:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SD/MI = 35 menit&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SMP/MTs = 40 menit&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SMA/MA = 45 menit&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;9. Pengembangan &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kurikulum lebih &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;lanjut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hanya sekolah yang mampu dan     memenuhi syarat dapat mengembangkan KTSP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Guru membuat silabus atas dasar     Kurikulum Nasional dan RP/Skenario Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Semua sekolah /satuan pendidikan     wajib membuat KTSP. &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Silabus merupakan bagian tidak     terpisahkan dari KTSP&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Guru harus membuat Rencana     Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;10. Prinsip &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengembangan &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keimanan, Budi Pekerti Luhur,     dan Nilai-nilai Budaya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penguatan Integritas Nasional &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keseimbangan Etika, Logika,     Estetika, dan Kinestetika&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kesamaan Memperoleh Kesempatan &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Perkembangan Pengetahuan dan     Teknologi Informasi&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengembangan Kecakapan Hidup &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Belajar Sepanjang Hayat &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berpusat pada Anak &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pendekatan Menyeluruh dan     Kemitraan &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berpusat pada potensi,     perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan     lingkungannya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beragam dan terpadu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Tanggap terhadap perkembangan ilmu     pengetahuan, teknologi, dan seni&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Relevan dengan kebutuhan     kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menyeluruh dan berkesinam-bungan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Belajar sepanjang hayat&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seimbang antara kepentingan nasional dan     kepentingan daerah&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;11. Prinsip &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tidak terdapat prinsip pelaksanaan    kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Didasarkan pada potensi, perkembangan dan     kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna     bagi dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menegakkan lima pilar belajar: &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;belajar untuk beriman dan     bertakwa kepada Tuhan YME, &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;belajar untuk memahami dan     menghayati, &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat     secara efektif, &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;belajar untuk hidup bersama dan     berguna bagi orang lain, &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;belajar untuk membangun dan menemukan jati     diri, melalui proses pembela-jaran yang efektif, aktif, kreatif &amp;amp;     menyenangkan. &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p style="margin-left: 0.46cm; text-indent: -0.46cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3.    Memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan perbaik-an,    pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap    perkembangan, dan kondisinya dengan memperhatikan keterpaduan    pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan,    keindividuan, kesosialan, dan moral. &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta     didik dan pendidik yang saling meneri-ma dan menghargai, akrab,     terbuka, dan hangat, dengan prinsip &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;tut     wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p style="margin-left: 0.46cm; text-indent: -0.46cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5.    Menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber    belajar dan teknologi yang memadai, dan meman-faatkan lingkungan    sekitar sebagai sumber belajar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 0.46cm; text-indent: -0.46cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6.    Mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan    daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan    kajian secara optimal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 0.46cm; text-indent: -0.46cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7.    Diselenggarakan dalam kese-imbangan, keterkaitan, dan    kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta    jenjang pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="129"&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;12. Pedoman &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pelaksanaan &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;    &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="202"&gt;    &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bahasa Pengantar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Intrakurikuler&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ekstrakurikuler&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Remedial, pengayaan, akselerasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bimbingan &amp;amp; Konseling&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nilai-nilai Pancasila&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Budi Pekerti&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tenaga Kependidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber dan Sarana Belajar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahap Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengembangan Silabus&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengelolaan Kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="199"&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tidak terdapat pedoman pelaksanaan kurikulum    seperti pada Kurikulum 2004.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Untuk sementara baru 12 aspek yang saya temukan, dimana hanya 2 (dua) hal saja yang sama, yakni landasan ideologis dan pendekatan yang digunakan. Sementara 10 aspek lainnya berbeda sangat nyata, meskipun ada kemiripan pada butir-butir tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;PERBEDAAN ESENSI SK DAN KD&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Hal yang sering dikatakan oleh pejabat Depdiknas dan Dinas Pendidikan, bahwa Kurikulum 2004 dan 2006 adalah pada aspek Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya. Sepintas memang ya, padahal sesungguhnya tidak semuanya benar.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Dalam Kurikulum SD/MI 2004 hanya terdapat satu SK masing-masing jenjang kelas untuk hampir semua mata pelajaran. Namun dalam Kurikulum 2006 terdapat dua SK untuk setiap jenjang kelas untuk seluruh mata pelajaran plus rinciannya pada kelas dan pelajaran tertentu. Masing-masing SK sudah diplot mana yang untuk semester 1 dan 2. Sementara itu, batasan semacam ini tidak ada pada Kurikulum 2004.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;KD-KD yang ada dalam Kurikulum 2004 ada yang masih digunakan dengan rumusan yang sama atau mirip dengan rumusan KD dalam Kurikulum 2006. Ada beberapa KD Kurikulum 2004 yang dibuang. Ada beberapa KD yang baru dalam Kurikulum 2006. Sehingga kalau ruang lingkup materi (&lt;i&gt;scope&lt;/i&gt;) ini dijadikan ukuran, maka memang tidak terlalu banyak perbedaan Kurikulum 2004 dengan Kurikulum 2006. Namun KD-KD yang ada dalam Kurikulum 2004 tersebut direkonstruksikan kembali, ditata kembali sedemikian rupa sehingga menjadi sangat berbeda dalam urutannya (&lt;i&gt;sequence&lt;/i&gt;).  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Walaupun ruang lingkup materi yang sama antara kedua kurikulum tersebut, namun karena urutan penyajian per kelasnya menjadi berbeda, maka kedua kurikulum tersebut berbeda. Sebagai contoh, ada KD pada kelas III SD untuk mata pelajaran IPS yang dipindahkan ke kelas II. Beberapa KD dalam mata pelajaran IPS di SD dipindahkan dari kelas VII ke kelas VIII, atau sebaliknya. KD untuk PKN di SMP dipindahkan ke kelas VIII dan IX dari kelas VII. Sebaliknya ada KD di kelas VIII yang diturunkan ke kelas VII.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Pemindahan KD sebagai penataan kembali KD dari Kurikulum 2004 ini terjadi pada semua mata pelajaran dan semua jenjang sekolah pada Kurikulum 2006. Hal ini akan sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran di kelas, terlebih jika sekolah berkehendak akan melaksanakan Kurikulum 2006 secara penuh pada tahun pembelajaran 2006/2007 ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Perubahan lain adalah bahwa pembelajaran di kelas I, II dan III SD/MI perlu dilaksanakan secara tematik, sementara untuk kelas IV, V dan VI dengan pembelajaran bidang studi. Khusus untuk IPA dan IPS di SD digunakan pendekatan pembelajaran terpadu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Sedangkan IPA dan IPS di SMP yang semula SK dan KD-nya disusun dengan menggunakan pendekatan sub-bidang studi, pada Kurikulum 2006 tidak lagi menggunakan pendekatan tersebut. Hal ini berdampak pada manajemen kurikulum dan pembelajaran di kelas.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Sementara itu di SMA/SMK tidak ada perubahan seperti yang ada di SD dan sebagian di SMP. Namun bukan berarti tidak ada perubahan atau penataan KD di kurikulum SMA/SMK. Jumlah SK dalam Kurikulum 2004 yang semula 1 atau beberapa pada setiap mata pelajaran, pada Kurikulum 2006 dikembangkan menjadi beberapa SK . SK-SK ini sebagian besar diambil isi SK dalam Kurikulum 2004.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Namun kalau dicermati, ternyata SK-SK dalam Kurikulum SMA 2006 ini identik, sangat mirip dengan KD-KD dalam Kurikulum SMA 2004. Demikian pula KD-KD pada Kurikulum 2006 ini sangat identik dengan indikator pencapaian pada Kurikulum 2004. Dengan kata lain, terdapat “peningkatan status KD dan Indikator” pada Kurikulum 2004, sehingga menjadi SK dan KD pada Kurikulum SMA 2006.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Kalau terjadi banyak kali kasus seperti ini, rasanya tidak elok jika kita masih saja mengatakan bahwa Kurikulum 2004 sama dengan Kurikulum 2006, atau perubahan yang ada tidak banyak. Kalau mau melihat seberapa banyak perubahan kedua kurikulum tersebut, buatlah matriks pemetaan SK dan KD + indikator dari kurikulum dengan Kurikulum 2006. Pasti kepala puyeng, dan mata berkunang-kunang.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;IMPLIKASI PADA MANAJEMEN KURIKULUM &amp;amp; PEMBELAJARAN&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Akibat perubahan dan penataan kembali SK dan KD pada Kurikulum 2006, maka akan berdampak pada manajemen kurikulum dan pembelajarannya. Sebagai misal, bagaimana membuat jadwal pelajaran pada kelas I s.d. III SD/MI sesuai dengan model pembelajaran tematik. Sedangkan selama ini guru Pendidikan Agama dan Penjas Orkes adalah guru bidang studi? Bagaimana mengisi rapor siswa? Bagaimana penilaiannya? Demikian pula dengan mata pelajaran IPS dan IPA di SMP/MTs. Karena tidak lagi menggunakan pola sub-bidang studi, maka pengaturan siapa yang mengajarkan KD tertentu sesuai dengan rumpun ilmu pembentuknya harus disusun dengan baik.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Ambil contoh, di KD IPA SMP pada semester 1 kelas VII terkait dengan Fisika dan Kimia. Sementara untuk Biologi terdapat pada semester 2. Nah, apakah guru Biologi ini akan dibiarkan menganggur selama satu semester untuk menunggu gilirannya pada semester 2? Atau guru Fisika kemudian akan menganggur setelah satu semester mengajar? Bagaimana dengan guru-guru di sekolah swasta yang hanya dibayar sesuai jam riil mengajarnya? Dalam pelajaran IPS, kasus ini juga akan terjadi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Persoalan manajemen kurikulum dan pembelajaran yang sangat berbeda antara Kurikulum 2004 dengan Kurikulum 2006. Kedua persoalan ini akan sangat dirasakan oleh para guru pengajarnya karena mereka adalah perencana, pelaksana dan penilai pembelajaran. Merekalah yang akan dibingungkan setiap hari dalam melaksanakan tugasnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Jadi, sekali lagi, jika perbedaan antara kedua kurikulum tersebut sangat sugnifikan. Dan para guru adalah “korban” pertama dari perubahan kurikulum ini. Secara rinci perubahan kurikulum pada masing-masing jenjang sekolah akan saya kupas dalam tulisan-tulisan berikutnya. Selamat menikmati perubahan!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="right"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Samarinda, 29 Juli 2006&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;a href="http://rijono.wordpress.com/2008/02/28/kurikulum-2004-kbk-kurikulum-2006-ktsp-memang-berbeda-secara-signifikan/"&gt;Sumber: http://rijono.wordpress.com/2008/02/28/kurikulum-2004-kbk-kurikulum-2006-ktsp-memang-berbeda-secara-signifikan/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-7933475820640631637?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/7933475820640631637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=7933475820640631637' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/7933475820640631637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/7933475820640631637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/perbedaan-kurikulum-2004-dan-2006.html' title='Perbedaan Kurikulum 2004 dan 2006'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-3209407091029835779</id><published>2008-06-23T01:48:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T01:49:58.878-07:00</updated><title type='text'>Latar Belakang SK Biologi SMA/MA</title><content type='html'>&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Standar Kompetensi - Kompetensi Dasar KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (K T S P ) Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) /Madrasah Aliyah (MA)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;A. Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt; Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan &lt;b&gt;cara mencari tahu (&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;inquiry&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;)&lt;/b&gt; tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt; Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt; Mata pelajaran &lt;b&gt;Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif&lt;/b&gt; untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Penyelesaian masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan pemahaman dalam bidang matematika, fisika, kimia dan pengetahuan pendukung lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.21cm;"&gt;&lt;b&gt;B. Tujuan &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" lang="sv-SE"&gt; Mata pelajaran Biologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Membentuk  sikap positif terhadap biologi dengan menyadari keteraturan dan  keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Memupuk  sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat  bekerjasama dengan orang lain&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Mengembangkan  pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui  percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan  tertulis&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Mengembangkan  kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan  menggunakan konsep dan prinsip biologi   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Mengembangkan  penguasaan konsep dan prinsip biologi dan saling keterkaitannya  dengan IPA lainnya serta mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan  sikap percaya diri&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Menerapkan  konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi  sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Meningkatkan  kesadaran dan berperan serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;C. Ruang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;Lingkup &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Mata pelajaran Biologi di SMA / MA merupakan kelanjutan IPA di SMP/MTs yang menekankan pada fenomena alam dan penerapannya yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Hakikat  biologi, keanekaragaman hayati dan pengelompokan makhluk hidup,  hubungan antarkomponen ekosistem, perubahan materi dan energi,  peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Organisasi  seluler, struktur jaringan, struktur dan fungsi organ tumbuhan,  hewan dan manusia serta penerapannya dalam konteks sains,  lingkungan, teknologi dan masyarakat&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Proses  yang terjadi pada tumbuhan, proses metabolisme, hereditas, evolusi,  bioteknologi dan implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan  masyarakat.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;a href="http://aansma11.blogspot.com/2007/06/ktsp-biologi-smama.html"&gt;Sumber: http://aansma11.blogspot.com/2007/06/ktsp-biologi-smama.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-3209407091029835779?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/3209407091029835779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=3209407091029835779' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/3209407091029835779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/3209407091029835779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/latar-belakang-sk-biologi-smama.html' title='Latar Belakang SK Biologi SMA/MA'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-4237032141831568945</id><published>2008-06-23T01:45:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T01:47:58.755-07:00</updated><title type='text'>SK dan KD Biologi SMA/MA..</title><content type='html'>&lt;p lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Biologi SMA/MA&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas X, Semester 1 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="96%"&gt;  &lt;col width="110*"&gt;  &lt;col width="146*"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0); border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 0.19cm 0.05cm; margin-left: 0.33cm; text-indent: -0.33cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     1. Memahami hakikat Biologi sebagai ilmu      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.32cm;"&gt;     1.1 Mengidentifikasi ruang lingkup Biologi      &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.32cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.2 Mendeskripsikan objek dan permasalahan     biologi pada berbagai tingkat organisasi kehidupan (molekul, sel,     jaringan, organ, individu, populasi, ekosistem, dan bioma)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0); border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 0.19cm 0.05cm; margin-left: 0.33cm; text-indent: -0.33cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     2. Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.1 Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam     kehidupan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.2 Mendeskripsikan ciri-ciri Archaeobacteria dan Eubacteria dan     peranannya bagi kehidupan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.3 Menyajikan ciri-ciri umum filum dalam kingdom Protista, dan     peranannya bagi kehidupan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.4 Mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan     hasil pengamatan, percobaan, dan kajian literatur serta     peranannya bagi kehidupan&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas X, Semester 2 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="96%"&gt;  &lt;col width="110*"&gt;  &lt;col width="146*"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-right: 0.36cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td rowspan="2" width="43%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem,     melalui kegiatan pengamatan      &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.2 Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan usaha     pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; margin-right: 0.36cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam Dunia Tumbuhan dan     peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.4 Mendeskripsikan ciri-ciri Filum dalam Dunia Hewan dan     peranannya bagi kehidupan&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="margin-left: 0.71cm; margin-right: 0.36cm; text-indent: -0.71cm;"&gt;    &lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan     materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan     ekosistem&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4.1 Mendeskripsikan peran komponen ekosistem dalam aliran energi     dan daur biogeokimia serta pemanfaatan komponen ekosistem bagi     kehidupan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4.2 Menjelaskan keterkaitan antara kegiatan manusia dengan     masalah perusakan/pencemaran lingkungan dan pelestarian     lingkungan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="de-DE"&gt;     4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.74cm; text-indent: -0.74cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     4.4 Membuat produk daur ulang limbah      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas XI, Semester 1&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="95%"&gt;  &lt;col width="109*"&gt;  &lt;col width="147*"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     1. Memahami struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil     kehidupan&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.1 Mendeskripsikan komponen kimiawi sel,     struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.2 Mengidentifikasi organela sel tumbuhan dan     hewan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.3 Membandingkan mekanisme transpor pada     membran (difusi, osmosis, transport aktif, endositosis,     eksositosis)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan     tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkannya     dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar     kultur jaringan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.2 Mendeskripsikan struktur jaringan hewan Vertebrata dan     mengaitkannya dengan fungsinya&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan     tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta     implikasinya pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.1 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses     serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem gerak pada     manusia&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.2 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses     serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem peredaran     darah&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas XI, Semester 2 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="95%"&gt;  &lt;col width="109*"&gt;  &lt;col width="147*"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan     tertentu, kelainan dan/atau penyakit yang mungkin terjadi serta     implikasinya pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.3 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses     serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan     makanan pada manusia dan hewan (misalnya ruminansia)      &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.4 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses     serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pernapasan     pada manusia dan hewan (misalnya burung)      &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.5 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses     serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi     pada manusia dan hewan (misalnya pada ikan dan serangga)&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.6 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses     serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem regulasi     manusia (saraf, endokrin, dan penginderaan)&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.7 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses     yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi,     fertilisasi, kehamilan, dan pemberian ASI, serta     kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi     manusia&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.8 Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda asing     berupa antigen dan bibit penyakit      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas XII, Semester 1 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="96%"&gt;  &lt;col width="109*"&gt;  &lt;col width="147*"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     1. Melakukan percobaan pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan         &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     1.1 Merencanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap     pertumbuhan tumbuhan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     1.2 Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap     pertumbuhan tumbuhan      &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.1 Mengkomunikasikan hasil percobaan pengaruh     faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     2. Memahami pentingnya proses metabolisme pada organisme&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.1 Mendeskripsikan fungsi enzim dalam proses metabolisme&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.2 Mendeskripsikan proses katabolisme dan anabolisme karbohidrat&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses metabolisme karbohidrat     dengan metabolisme lemak dan protein      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3. Memahami penerapan konsep dasar dan prinsip-prinsip hereditas     serta implikasinya pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.1 Menjelaskan konsep gen, DNA, dan kromosom&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.2 Menjelaskan hubungan gen (DNA)-RNA-polipeptida dan proses     sintesis protein&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses pembelahan mitosis dan     meiosis dengan pewarisan sifat&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.4 Menerapkan prinsip hereditas dalam mekanisme pewarisan sifat&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.5 Menjelaskan peristiwa mutasi dan implikasinya dalam     Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas XII, Semester 2 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="96%"&gt;  &lt;col width="109*"&gt;  &lt;col width="147*"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4. Memahami teori evolusi serta implikasinya pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4.1 Menjelaskan teori, prinsip, dan mekanisme evolusi biologi&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4.2 Mengkomunikasikan hasil studi evolusi biologi&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4.3 Mendeskripsikan kecenderungan baru tentang teori evolusi      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     5. Memahami prinsip-prinsip dasar bioteknologi serta implikasinya     pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     5.1 Menjelaskan arti, prinsip dasar, dan jenis-jenis bioteknologi         &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     5.2 Menjelaskan dan menganalisis peran bioteknologi serta     implikasi hasil-hasil bioteknologi pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;E. Arah Pengembangan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;b&gt;Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian&lt;/b&gt;. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;a href="http://aansma11.blogspot.com/2007/06/ktsp-biologi-smama.html"&gt;Sumber: http://aansma11.blogspot.com/2007/06/ktsp-biologi-smama.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-4237032141831568945?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/4237032141831568945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=4237032141831568945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/4237032141831568945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/4237032141831568945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/sk-dan-kd-biologi-smama.html' title='SK dan KD Biologi SMA/MA..'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-3103547688524765413</id><published>2008-06-19T20:18:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T01:45:51.454-07:00</updated><title type='text'>SKL SMA/MA Biologi...</title><content type='html'>&lt;h1 style="margin: 0in -27.55pt 0.0001pt -28.05pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;P&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 523.6pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="698"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 33.15pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: double solid solid double; border-color: windowtext; border-width: 1.5pt 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 41.5pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 33.15pt; color: rgb(255, 255, 255);" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;No.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: double solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1.5pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 122.85pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 33.15pt; color: rgb(255, 255, 255);" width="164"&gt;   &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;Materi&lt;/h2&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: double solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1.5pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 256.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 33.15pt; color: rgb(255, 255, 255);" width="342"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Kompetensi yang   Diujikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: double double solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1.5pt 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 102.85pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 33.15pt; color: rgb(255, 255, 255);" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Bentuk Penilaian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;1&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Keanekaragaman hayati&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mampu   menentukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;variasi pada tingkat yang   berbeda dan mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan sistem tertentu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis   dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;praktek&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;2&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Virus dan monera &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   struktur tubuh, reproduksi maupun peranan virus dan monera&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color" style="border-style: none double solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;3&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tumbuhan ganggang, lumut dan tumbuhan paku&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menentukan   ciri, reproduksi dan peranan dari ganggang, lumut, tumbuhan paku&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color" style="border-style: none double solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;4&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Invertebrata&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   ciri, reproduksi dan peranan dari protozoa, porifera, coelenterata, cacing,   moluska dan ekinodermata &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color" style="border-style: none double solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;5&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jamur&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   ciri, reproduksi dan peranan dari zygomicotina, ascomycotina, basidiomicotina   dan deuteromicotina &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color" style="border-style: none double solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;6&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ekologi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   prinsip ekologi, interaksi antar komponen dari tingkat individu sampai   tingkat bioma dan perkembangan ekosistem&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;7&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aksi interaksi &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan prinsip dan pola interaksi yang melibatkan faktor biotik, abiotik, rantai makanan, aliran energi dan siklus biogeokimia dalam ekosistem&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;8&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lingkungan &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menerapkan   prinsip etika lingkungan untuk menjaga keseimbangan lingkungan &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;9&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pelestarian sumber daya alam hayati&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   cara melestarikan sumber daya alam hayati&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;10&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Struktur hewan &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   struktur hewan dari jaringan, organ sampai sistem organ &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;11&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Struktur tumbuhan &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   struktur fungsi jaringan tumbuhan dan mengkomunikasi hasil pengamatan tentang   jaringan dan organ&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;12&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pertumbuhan dan perkembangan &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mampu   menjelaskan proses pertumbuhan dan perkembangan disertai faktor yang   mempengaruhinya&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;13&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Gerak pada tumbuhan &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   berbagai macam gerak tumbuhan dan penyebabnya&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid double double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1.5pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;14&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid double none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1.5pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mekanisme gerak pada vertebrata&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid double none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   mekanisme gerak pada hewan vertebrata&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double double none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; width: 523.6pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="698"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 33.15pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: double solid solid double; border-color: windowtext; border-width: 1.5pt 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 41.5pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 33.15pt; color: rgb(255, 255, 255);" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;No.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: double solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1.5pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 122.85pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 33.15pt; color: rgb(255, 255, 255);" width="164"&gt;   &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;Materi&lt;/h2&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: double solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1.5pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 256.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 33.15pt; color: rgb(255, 255, 255);" width="342"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Kompetensi yang   Diujikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: double double solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1.5pt 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 102.85pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 33.15pt; color: rgb(255, 255, 255);" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Bentuk Penilaian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;15&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Transportasi pada tumbuhan&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   pengangkutan bahan pada tumbuhan melalui difusi, osmosis dan transpor aktif &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;16&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sistem sirkulasi pada hewan dan manusia&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   alat, proses dan sirkulasi pada manusia atau hewan, serta kelainan pada   sistem sirkulasi manusia&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;17&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sistem percernaan makanan&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan fungsi zat makanan dan proses pencernaan makanan pada manusia dan hewan, serta gangguan pada sistem pencernaan manusia&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis   dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;praktek&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;18&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sistem pernapasan&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   alat respirasi, proses dan gangguan pada sistem respirasi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;19&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sistem ekskresi &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   alat, proses, dan gangguan pada sistem ekskresi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;20&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sistem koordinasi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   struktur fungsi alat, proses dan gangguan pada sistem saraf, indera dan   endokrin &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;21&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sistem Reproduksi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   struktur dan fungsi alat, serta proses reproduksi pada tumbuhan biji dan   mamalia &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;22&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pemencaran organisme&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menentukan   hubungan antara struktur alat pemencaran dan penyebab pemencaran pada   tumbuhan &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;23&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sel&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   struktur dan fungsi bagian-bagian sel&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;24&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Reproduksi sel &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   proses mitosis dan meiosis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;25&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Metabolisme&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   tahapan-tahapan dalam proses metabolisme&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis   dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;praktek&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;26&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Substansi genetika&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mendeskripsikan   struktur dan fungsi substansi genetik &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;27&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pola-pola hereditas dan Hereditas pada manusia&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menerapkan   prinsip pola-pola hereditas pada kasus yang diberikan baik pada tumbuhan,   hewan atau manusia&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;28&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mutasi &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   penyebab, akibat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan macam mutasi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;29&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Asal usul kehidupan&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   asal usul kehidupan berdasarkan evolusi biologi dan evolusi kimia&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;30&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Evolusi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menjelaskan   fenomena evolusi, mekanisme evolusi dan petunjuk adanya evolusi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;31&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Biogeografi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menghubungkan   daerah sebaran organisme dengan organisme yang ada &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;32&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoHeader" style=""&gt;Upaya manusia dalam pengembangan   sumber daya alam hayati&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami usaha manusia dalam pengembangan tanaman dan hewan untuk meningkatkan pemanfaatannya dan pelestarian sumber daya alam hayati &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid double double; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1.5pt 1.5pt; padding: 0in 5.4pt; width: 41.5pt;" valign="top" width="55"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;33&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid double none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1.5pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 122.85pt;" valign="top" width="164"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bioteknologi&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid double none; padding: 0in 5.4pt; width: 256.4pt;" valign="top" width="342"&gt;   &lt;p class="a"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Memahami   proses bioteknologi beserta keuntungan dan kerugiannya &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none double double none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1.5pt 1.5pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 102.85pt;" valign="top" width="137"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Tes tertulis&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;B I O L O G I&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;SMP Nasional Kontraktor Production Sharing (KPS) &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Balikpapan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;MENGUJI KARBOHIDRAT PADA TANAMAN&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Siswa secara berkelompok&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melakukan kegiatan menutup sebagian daun dengan kertas timah/aluminium foil/kertas karbon untuk menghalangi sinar matahari agar tanaman tidak melakukan fotosintesis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Siswa sedang menutup sebagian daun pada beberapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kurikulum Biologi Kelas IX&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Standar Kompetensi 1 :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kompetensi Dasar :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mendeskripsikan sistem ekskresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mendeskripsikan sistem reproduksi dan penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi pada manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mendeskripsikan sistem koordinasi dan alat indera pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Standar Kompetensi 2 :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kompetensi Dasar :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mengidentifikasi kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kurikulum Biologi Kelas VIII&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Standar Kompetensi 1 :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kompetensi Dasar :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;1.Menganalisis pentingnya pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;2.Mendeskripsikan tahapan perkembangan manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;3.Mendeskripsikan sistem gerak pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;4.Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia dan dan hubungannya dengan &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesehatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;5.Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;6.Mendeskripsikan sistem peredaran darah pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Standar Kompetensi 2 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kurikulum Biologi Kelas VII&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Standar Kompetensi 1 :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kompetensi Dasar :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;1. Melaksanakan pengamatan objek&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara terencana dan sistematis untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memperoleh informasi gejala alam biotik dan abiotik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;2. Menggunakan mikroskop dan peralatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendukung lainnya untuk mengamati gejala-gejala kehidupan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;3. Menerapkan keselamatan kerja dalam melakukan pengamatan gejala-gejala alam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Standar Kompetensi 2 :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memahami keanekaragaman makhluk hidup &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kompetensi Dasar :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;1. Mengidentifikasi ciri-ciri makhluk hidup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  2.Mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri-cirinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-3103547688524765413?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/3103547688524765413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=3103547688524765413' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/3103547688524765413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/3103547688524765413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/standar-kompetensi-lulusan-sekolah.html' title='SKL SMA/MA Biologi...'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-6990157877709790757</id><published>2008-06-06T22:48:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T01:37:15.588-07:00</updated><title type='text'>ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN....</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERENIALISM, REKONSTRUKSIONISM, KONSTRUKSIONISM, ESSENTIALISM dan PROGRESIVISM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. PERENIALISM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip umum yang telah&lt;br /&gt;Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.&lt;br /&gt;menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tempat Asal Aliran Perenialisme Dikembangkan&lt;br /&gt;Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluur yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.&lt;br /&gt;Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau, karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini, kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebuoayaan dan pendidikan zaman sekarang.&lt;br /&gt;Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau.&lt;br /&gt;Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan.&lt;br /&gt;Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali, dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pandangan perenialisme tentang pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas, maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh.&lt;br /&gt;Jadi epistemologi dari perenialisme, harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki, yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi, yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki, dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus.&lt;br /&gt;Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian, karena telah memiliki evidensi diri sendiri.&lt;br /&gt;Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham.&lt;br /&gt;Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya, telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau.&lt;br /&gt;Dengan mengetahui rulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut, yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karya­karya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.&lt;br /&gt;Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli terse­but dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri, dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat pereni­alisme tersebut.&lt;br /&gt;Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. Masak dalam arti hidup akalnya. ladi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.&lt;br /&gt;Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru, di mana tug as pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.&lt;br /&gt;Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini, Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut, bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis, sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Di samping itu, dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis.&lt;br /&gt;Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu, jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama, maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang, ini disebut pendidikan umum (general education). Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu, diharapkan tiap individu itl! terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Tokoh-tokoh Perenialisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Plato&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  2. Aristoteles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menganggap penting pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  3. Thomas Aquinas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. REKONSTRUKSIONISM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut, aliran rekonstruksionisme dan perenialisme, memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang scrasi dalam kehidupan. Aliran perennialisme memilih cara tersendiri, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap paling ideal. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya mem­bina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan tersebut, rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atau orang, yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka, proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama terse but memerlukan kerjasama antar ummat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme&lt;br /&gt;Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tempat Asal Aliran Rekonstruksionisme&lt;br /&gt;Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan&lt;br /&gt;Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.&lt;br /&gt;Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme, aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri, sarna azali dan abadi, dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. Descartes, seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini, yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia, semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan petasaan hidup. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. Kausa prima, dalam konteks ini, ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. Tuhan adalah aktualitas murni yang sarna sekali sunyi dan substansi.&lt;br /&gt;Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung padii ilmt pengetahuan. Namun demikian, meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna, tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. KONSTRUKSIONISM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.&lt;br /&gt;  2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.&lt;br /&gt;  3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.&lt;br /&gt;  4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.&lt;br /&gt;  5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.&lt;br /&gt;  6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu cara untuk mendapatkan intisari pandangan konstruktivisme adalah membahas dua bentuknya, yaitu konstruktivisme individu dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konstruktivisme Individu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan ini fokus pada kehidupan “inner psikologi” manusia, yakni mengartikan sesuatu dengan menggunakan pengatahuan dan keyakinannya secara individu. Pengetahuan disusun dengan mentransformasikan, mengorganisasi, dan mereorganisasikan pengetahuan yang sebelumnya. Pengetahuan bukan merupakan cermin dari luar, walaupun pengalaman mempengaruhi pemikiran, dan pemikiran mempengaruhi pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasi dan penemuan, jauh lebih penting dari pengajaran. Piaget menekankan pada hal-hal yang masuk akal dan konstruksi pengetahuan yang tidak bias secara langsung dipelajari dari lingkungan. Pengetahuan muncul dari merefleksikan dan menghubungkan kognisi atau pikiran-pikiran kita sendiri, bukan dari pemetaan realitas eksternal. Piaget melihat lingkungan sosial sebagai sebuah faktor penting dalam pengembangan kognisi, tapi dia tidak meyakini bahwa interaksi sosial merupakan mekanisme utama dalam mengubah pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Konstruktivisme Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vgotsky meyakini, bahwa interaksi sosial, unsur-unsur budaya, dan aktivitasnya adalah yang membentuk pengembangan dan pembelajaran individu. Atau dengan kata lain, pengetahuan disusun berdasarkan interaksi sosial dalam konteks sosialbudayanya. Pengetahuan merefleksikan dunia luar yang disaring dan dipengaruhi oleh budaya, bahasa, keyakinan, interaksi antar sesama, pengajaran klasikal, dan role modeling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan yang terencana, pengajaran, model dan pelatihan, seperti juga pengetahuan, keyakinan dan pemikiran siswa, mempengaruhi pembelajaran. Vygotsky juga dianggap sebagai konstruktivis sosial, sekaligus individu. Yang pertama, disebabkan teorinya sangat bergantung kepada interaksi sosial dan konteks budaya dalam menjelaskan pembelajaran. Beberapa teoritikus mengkategorikannya sebagai konstruktivis individu, karena ketertarikannya dalam pengembangan individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. DIMENSI-DIMENSI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lingkungan Belajar yang Kompleks dan Tugas-tugas Otentik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa tidak boleh diberikan bagian-bagian yang terpisah, penyederhanaan masalah, dan pengulangan keterampilan dasar, tetapi sebaliknya: siswa dihadapakan pada lingkungan belajar yang kompleks, terlihat samar-samar, dan masalah yang tidak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah yang kompleks itu harus dihubungkan pada aktivitas dan tugas yang otentik, karena keberagaman situasi yang siswa hadapi tersebut, seperti juga aplikasi yang mereka hadapi tentang dunia nyata.&lt;br /&gt;2. Negosiasi Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama pembelajaran adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam membangun serta mempertahankan posisi mereka, dan disaat bersamaan menghormati posisi orang lain dan bekerjasama untuk berdiskusi atau membangun pengertian bersama-sama. Guna mnyelesaikan perpaduan ini, haruslah berbicara dan mendengarkan satu sama lain. Dengan kata lain, proses mental ini melalui negosiasi sosial dan interaksi, sehingga kolaborasi dalam pembelajaran dapat dimungkinkan, yakni melahirkan sebuah sikap intersubyektif – sebuah komitmen untuk membangun keragaman pengertian dan menemukan kesamaan umum serta perpaduan penafsiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keragaman Pandangan dan Representasi Bahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acuan-acuan untuk pembelajaran harus sudah dapat memfasilitasi representasi beragam bahasan dengan menggunakan analogi contoh dan metafora yang berbeda. Peninjauan materi yang sama, pada waktu yang berbeda-beda dalam penyusunan kembali konteks untuk tujuan yang berbeda, dan dari pandangan konseptual yang berbeda adalah penting untuk mencapai tujuan kemampuan pengetahuan yang lebih maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Proses Konstruksi Pengetahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan konstruktivisme mengedepankan untuk membuat siswa peduli pada peran mereka dalam membangun pengetahuan. Asumsinya adalah keyakinan dan pengalaman individu, membentuk apa yang dikenal sebagai dunia. Asumsi dan pengalaman berbeda, mengarahkan kepada pengetahuan yang berbeda pula. Apabila siswa peduli terhadap pengaruh-pengaruh yang membentuk pola pikir mereka, maka mereka akan lebih mampu untuk memilih, mengembangkan, dan memanfaatkan posisi dengan cara introspeksi diri, pada saat yang bersamaan menghormati posisi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pembelajaran Siswa Terhadap Kesadaran Dalam Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus dalam proses ini adalah menempatkan berbagai usaha siswa untuk memahami pembentukan pembelajaran dalam pendidikan. Kesadaran yang timbul pada diri siswa, bukan berarti guru melonggarkan tanggungjawabnya untuk memberikan pengarahan atau bimbingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PENERAPAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Discovery Learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model ini, siswa didorong untuk belajar sendiri, belajar aktif melalui konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan guru sebagai motivatornya. Pertama, guru mengidentifikasi kurikulum. Selanjutnya memandu pertanyaan, menyuguhkan teka-teki, dan menguraikan berbagai permasalahan. Kedua, pertanyaan yang fokus harus dipilih untuk memandu siswa ke arah pemahaman yang bermakna. Siswa lalu memformulasikan jawaban sementara (hipotesis). Ketiga, mengumpulkan data dari berbagai sumber yang relevan, dan menguji hipotesis. Keempat, siswa membentuk konsep dan prinsip. Kelima, guru memandu proses berfikir dan diskusi siswa, untuk mengambil keputusan. Keenam, merefleksikan pada masalah nyata dan mengolah pemikiran guna menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses ini mengajarkan siswa untuk memahami isi dan proses dalam waktu yang bersamaan. Dengan kata lain, siswa belajar menyelesaikan masalah, mengevaluasi solusi, dan berfikir logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Pembelajaran Berbasis Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model ini, siswa dihadapkan pada masalah nyata yang bermakna untuk mereka. Persoalan sesungguhnya dari pembelajaran berbasis masalah adalah menyangkut masalah nyata, aksi siswa, dan kolaborasi diantara mereka untuk menyelesaikan masalah. Pertama, guru memotivasi diri siswa, dan mengarahkannya kepada permasalahan. Kedua, guru membantu siswa dengan memberi petunjuk tentang literatur yang terkait masalah, dan mengorganisirnya untuk belajar dengan membuat kelompok kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, guru menyemangati siswa untuk mencari lebih banyak literatur, melakukan percobaan, membuat penjelasan untuk menemukan solusi. Setelah itu, secara mandiri, kelompok kerja siswa melakukan penyelidikkan. Keempat, kelompok kerja siswa mempresentasikan hasil temuannya, baik itu berupa laporan, video, model, dan dibantu guru dalam mendiskusikannya. Kelima, kelompok kerja siswa menganalisis, dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah. Pada bagian ini pula, guru membantu siswa dalam merefleksikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model ini, guru dan siswa bersama-sama dalam proses, sesuai dengan porsinya. Mereka bersama-sama untuk mengkaji, membaca, menulis, meneliti, berbicara, guna menuju pada penyelesaian masalah selayaknya dalam kehidupan yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satupun teori tunggal konstruktivisme, begitupula tidak ada satu-satunya model pembelajaran sebagai penerapan konstruktivisme. Walaupun demikian banyak dari kaum konstruktivis, merekomendasikan kepada pendidik bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Pembelajaran melekat dalam lingkungan belajar yang kompleks, realistis, dan relevan.&lt;br /&gt;  2. Menyediakan negosiasi sosial, dan tanggungjawab bersama sebagai bagian dari pembelajaran.&lt;br /&gt;  3. Mendukung pandangan beragam dan menggunakan representasi yang juga beragam terhadap isi yang dipelajari.&lt;br /&gt;  4. Meningkatkan kesadaran diri dan pengertian bahwa pengetahuan itu dibangun, dan&lt;br /&gt;  5. Mendorong kesadaran dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. ESSENTIALISM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.&lt;br /&gt;Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.&lt;br /&gt;Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.&lt;br /&gt;Realisme modern, yang menjadi salah satu eksponen essensialisme, titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik, sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain, pandangan-pandangannya bersifat spiritual. John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu, alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri, dan dijadikan pangkal berfilsafat. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. Dan disana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak semata-mata bersifat mental.&lt;br /&gt;Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik, maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah, berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata, melainkan pertemuan keduanya.&lt;br /&gt;Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasan-gagasan (ide-ide). Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta adanya kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan.&lt;br /&gt;Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir, dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit, serta segala isinya. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar&lt;br /&gt;Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Pandangan Immanuel Kant, bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.&lt;br /&gt;Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda, lelapi benda-benda itu yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu.&lt;br /&gt;Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.&lt;br /&gt;Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Determiuisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum&lt;br /&gt;Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;Bogoslousky, mengutarakan di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Universum:&lt;br /&gt;Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. Di antaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal usul tata surya dan lain-Iainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sivilisasi:&lt;br /&gt;Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan tcrhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, dan hidup aman dan sejahtera .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kebudayaan:&lt;br /&gt;Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kepribadian:&lt;br /&gt;Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik, fisiologi, emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan, dapat berkembang harmonis dan organis, sesuai dengan kemanusiaan ideal.&lt;br /&gt;Robert Ulich berpendapat bahwa meskipun pada hakikatnya kurikulum disusun secara fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak, fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. Untuk ini perlu diadakan perencanaan dengan keseksamaan dan kepastian.&lt;br /&gt;Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk tiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi Kitab Suci. Sedangkan Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi .&lt;br /&gt;Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam, yang sederhana merupakan fundamen at au dasar dari susunannya yang paling kompleks. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis.&lt;br /&gt;B. Tokoh-tokoh Esensialisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831)&lt;br /&gt;Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. George Santayana&lt;br /&gt;George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan&lt;br /&gt;1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar&lt;br /&gt;Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum&lt;br /&gt;Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. PROGRESIVISM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi maslah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri (Barnadib, 1994:28). Oleh karena kemajuan atau progres ini menjadi suatu statemen progrevisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama dari kebudayaan yang meliputi ilmu-ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar "naturalistik", hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum.&lt;br /&gt;Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving.&lt;br /&gt;Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tokoh-tokoh Progresivisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  2. John Dewey (1859 - 1952)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  3. Hans Vaihinger (1852 - 1933)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER:&lt;br /&gt;http://fadliyanur.blogspot.com&lt;br /&gt;http://rudi.blogspot.com&lt;br /&gt;http://www.wikipedia.org.id&lt;br /&gt;http://arifatmawati1990.blogspot.com&lt;br /&gt;http://adhianung.blogspot.com&lt;br /&gt;http://www.google.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-6990157877709790757?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/6990157877709790757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=6990157877709790757' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/6990157877709790757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/6990157877709790757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/aliran-filsafat-pendidikan.html' title='ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN....'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-4794589085981587957</id><published>2008-04-25T21:12:00.000-07:00</published><updated>2008-04-25T21:13:57.163-07:00</updated><title type='text'>Pakar Psikologi Mengenai PENDIDIKAN</title><content type='html'>1. John Dewey&lt;br /&gt;onsep Dasar Pemikiran Pendidikan Dewey&lt;br /&gt;Pola pemikiran Dewey tentang pendidikan sejalan dengan konsepsi instrumentalisme yang dibangunnya, dimana konsep-konsep dasar pengalaman (experience), pertumbuhan (growth), eksperimen (experiment), dan transaksi (transaction) memiliki kedekatan yang akrab, sehingga Dewey mendeskripsikan filosofi sebagai teori umum pendidikan dan pendidikan sebagai laboran yang di dalamnya perbedaan-perbedaan filosofis menjadi kongkrit dan diuji. Pendidikan dan filosofi saling membutuhkan satu sama lain; dimana tanpa filosofi, pendidikan kering akan arahan inteligensi. Sebaliknya, tanpa pendidikan, filosofi kehilangan implementasi praktis dan menjadi mandul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. William James&lt;br /&gt;Baginya pendidikan lebih cenderung kepada “ organisasi yang ketertarikan mendalam terhadap tingkah laku dan ketertarikan akan kebiasaan dalam tingkah laku dan aksi yang menempatkan individual pada linkungannya”. Teori perkembangan diartikannya sebagai susunan dasar dari pengalaman mental untuk bertahan hidup. Pemikirannya ini dipengaruhi oleh insting dan pengalamannya mempelajari psikologi hewan dan doktrin teori evolusi biologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. J.J.Rosseau&lt;br /&gt; Jean Jaqques Rosseau, seorang tokoh pembaharu Perancis menyebutkan, Semua yang kita butuhkan dan semua kekurangan kita waktu lahir, hanya akan kita penuhi melalui pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Thorndike&lt;br /&gt;Menurut Thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus (yaitu yang berupa rangsangan seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera), dengan respon (yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakan/tindakan). Oleh karena itu, teori ini juga disebut “S-R Bond Theory” dan “S-R Psychology of Learning”. Menurut teori ini, perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar dapat berujud kongkrit yaitu dapat diamati. Thorndike juga merumuskan beberapa hukum dalam belajar yaitu : pertama, motivasi (misalnya rasa lapar, rasa ingin dihargai, ingin pandai) merupakan hal yang sangat vital dalam belajar. Kedua, low of effect; artinya jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan maka hubungan antara stimulus dan respons semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan (menganggu) efek yang dicapai respon, semakin lemah pula hubungan stimulus dan respons tersebut.Selain itu, Thorndike juga membuat hukum belajar lainnya yaitu law of readiness (hukum kesiap-siagaan) dan law of exercise (hukum latihan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-4794589085981587957?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/4794589085981587957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=4794589085981587957' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/4794589085981587957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/4794589085981587957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/04/pakar-psikologi-mengenai-pendidikan.html' title='Pakar Psikologi Mengenai PENDIDIKAN'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-4917379213986359247</id><published>2008-04-09T01:45:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T01:53:56.899-07:00</updated><title type='text'>"Inikah pemuda Harapan bangsa....????"</title><content type='html'>Generasi muda….ya…itulah harapan bangsa. Pamea ini terus menggema di telinga dari SD hingga Perguruan Tinggi. Konon maju atau tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh pemudanya. Yaa…Idealnya memang sepert itu. Lantas siapa dan bagaimana karakteristi generasi muda yang menjadi harapan bangsa itu.. Melihat kenyataan saat ini, apakah kita sedang berimajinasi atau mengkhayal sesuatu yang masih sangat jauh dari harapan. Apakah ini sesuatu kesalahan ataupun bentuk kepesimisan diri dalam mencapai  tujuan bangsa. Ironi sekali memang jika melihat para pemudanya terutama pelajar dan mahasiswa yang realitanya sungguh jauh dari harapan. Saya sendiri bingung  engan pelajar dan mahasiswa yang pergi ke sekolah atau ke kampus hanya sekedar ”ece-ece” tanpa ada sesuatu yang dihasilkan. Pulang pergi tanpa ada yang dihasilkan, sekedar datang menggugurkan tanggung jawab, ketawa-ketiwi dan bye-bye. Dalam rentang perjalanan menuju kampus saja sudah tak terhitung pelajar SMA  yang sedang nongkrong ditemani dengan sebatang rokok dan penampilan yang sangat tidak mencerminkan seorang yang terpelajar dan berpendidikan. Tak mau kalah siswa SMP pun sudah tak layak lagi dikatakan sebagai siswa SMP tapi lebih tepat dikatakan sebagai “preman”  anehnya lagi mereka terlihat bangga dengan apa yang mereka lakukan. Pria atau wanita tidak jauh berbeda. Kebanyakan hanya melihat “keseksian” fisik dan aksesoris belaka serta berlomba-lomba mengikuti trend anak muda yang mereka idolakan dari televisi, mulai dari mengikuti gaya berpakaian, gaya rambut bahkan hingga kepribadian sekalipun. Walaupun gambaran ini hanya sebagian kecil yang terlihat di sepanjang jalan kota Depok hingga kampus Unindra tercinta. Keheranan saya melihat pemandangan yang setiap hari terpampang dengan vulgarnya membuat hati ini terasa pilu dan membuat pesimis dan seketika berkata ”Inikah generasi muda harapan bangsa..??  “Inikah generasi muda yang akan memimpin Indonesia yang akan datang” Dimana semangat yang menggeu-gebu ketika seorang guru ataupun dosen memasuki kelas, dimana beratnya tas ketika membawa buku-buku pelajaran menuju ke sekolah, dimana semangat yang berkobar ketika memasuki perpustakaan…???? Yang ada kini berganti dengan wajah penuh kekecewaan ketika seorang dosen memasuki kelas…tas pun terasa berat karena berisi alat-alat kosmetik dan buku novel yang sedang popular … Sungguh, gambaran ini hanya mencakup wilayah depok hingga kampus unindra…bagaimana dengan daerah lainnya?? Apakah sama?? “inikah generasi muda harapan bangsa….???” Akan menjadi apa kelak bangsa ini. Apakah menjadi bangsa yang terjajah oleh bangsanya sendiri.. Siapa yang seharusnya bertanggung jawab mengenai ini semua… Apakah pendidikan negara kita yang seakan curat-marut dan tidak jelas mau dibawa kemana Negara kita. Apakah ini hasil ketidakprofesionalan pendidikan di Indonesia. Mulai dari pro kontra pengadaan UAN, nilai standar kelulusan dan hal-hal lainnya. Mungkin terlalu egois jika menyalahkan pendidikan 100%. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sekali yang perlu dibenahi dan diobati borok-borok bangsa yang tercinta ini. Karena sejelek dan sebobrok apapun Indonesia tetaplah Negara tercinta kita dan sebaik-baiknya rakyat ialah yang mencintai dan bangga dengan bangsanya sendiri. Karena semua bermulai dari kita sendiri dan dari hal-hal yang kecil dan diperlukan keikhlasan dan tekad yang kuat untuk membangun bangsa ini. Dan sesungguhnya perjalanan ini masih panjang…Ada yang gugur dan ada pula yang bertahan, walaupun terkadang terasa sangat melelahkan.. ..pendidikan tidak akan pernah mati…..Pendidikan bagaikan setitik cahaya di tengah kegelapan. . kita akan tetap bertahan karena KITA DIDIDIK BUKAN UNTUK MENJADI MANUSIA BIASA…SEMANGAT dan AKU BISSA….!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Written: Setia R Apriliani “In the Night”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-4917379213986359247?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/4917379213986359247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=4917379213986359247' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/4917379213986359247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/4917379213986359247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/04/inikah-pemuda-harapan-bangsa.html' title='&quot;Inikah pemuda Harapan bangsa....????&quot;'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-1140260076394652821</id><published>2008-04-07T04:07:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T02:03:51.366-07:00</updated><title type='text'>Standar Nasional Pendidikan PP No. 19 tahun 2005</title><content type='html'>Selasa, 24 Januari 2006&lt;br /&gt;Standar Nasional Pendidikan PP No. 19 Tahun 2005 -2-Lingkup Standar Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;Oleh H Maswardi M Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK menetapkan standar nasional pendidikan dalam PP No 19 Tahun 2005 ditetapkan beberapa badan yaitu Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal (BAN-PNF), Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penetapan Standar Nasional Pendidikan ini untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Sehubungan dengan itu, untuk penjaminan dan pengendalian span style="font-style:italic;"&gt;Summutu (Quality assurance and quality control) pendidikan tersebut agar sesuai standar pendidikan nasional dan sustainability (mutu yang berkelanjutan/berkesinambungan) sesuai dengan tuntutan yang selalu berubah baik di tingkat nasional, regional dan internasional, diberlakukan evaluasi akreditasi dan sertifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Nasional Pendidikan juga berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Fungsi perencanaan, pelaksanaan dari pengawasan tersebut meliputi ruang lingkup standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR ISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan. Bagi pendidikan dasar dan menengah baik yang umum maupun kejuruan kurikulumnya terdiri atas kelompok mata pelajaran: agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga dan kesehatan. Sedangkan kerangka dasar dan kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh Perguruan Tinggi yang bersangkutan untuk setiap prodi. Khusus kurikulum satuan pendidikan tinggi menurut pasal 9 (2) PP No. 19 Tahun 2005, wajib memuat mata kuliah Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR PROSES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran pada satuan pendidikan yang berstandar diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang lingkup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik, dan yang terlebih penting dalam proses pembelajaran adalah memberikan keteladanan. Untuk mendukung standar proses tersebut setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan dan penilaian hasilnya yang standarnya dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR KOMPETENSI LULUSAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan lulusan peserta didik yang meliputi kompetensi seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran dan mata kuliah atau kelompok mata kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan dalam PP No. 19 Tahun 2005 ditetapkan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kompetensi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini (PAUD) meliputi: kompetensi pedagogik kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melalui uji kelayakan dan kesetaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR SARANA DAN PRASARANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana pendidikan yang berstandar wajib dimiliki oleh setiap satuan pendidikan mulai dari SD sampai PT yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Demikian juga prasarana yang standar yang wajib dimiliki oleh setiap satuan pendidikan yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan, ruang pendidik (guru), ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga , tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang-ruang lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR PENGELOLAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya pengelolaan pendidikan pada pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi mengacu pada paradigma masing-masing jenjang. Pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang bercirikan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. Sedangkan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi menerapkan otonomi perguruan tinggi dengan memberikan kebebasan untuk mendorong kemandirian dalam pengelolaan akademik, operasional, personalia, keuangan dan lingkup fungsional pengelolaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR PEMBIAYAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiayaan pendidikan yang berstandar menurut pasal 62 PP ini terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal. Biaya investasi meliputi penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan SDM, dan modal kerja tetap. Biaya operasi meliputi gaji pendidik (guru) dan tenaga kependidikan serta tunjangan-tunjangan yang melekat pada gaji tersebut, biaya bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, biaya operasi pendidikan tidak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak dan asuransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya personil meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang berstandar meliputi: penilaian hasil belajar oleh pendidik dan oleh satuan pendidikan. Sedangkan untuk pendidikan dasar dan menengah ada penilaian hasil belajar oleh pemerintah dalam bentuk Ujian Nasional (UN). Penilaian hasil belajar oleh pendidik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dapat dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas yang dilakukan secara berkesinambungan. Pada jejang pendidikan tinggi dapat dalam bentuk ujian tengah semester dan ujian akhir semester serta bentuk lain yang diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: pontianak post,Penulis adalah Dosen FKIP Untan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-1140260076394652821?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/1140260076394652821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=1140260076394652821' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/1140260076394652821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/1140260076394652821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/04/standar-nasional-pendidikan-pp-no-19.html' title='Standar Nasional Pendidikan PP No. 19 tahun 2005'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-6849473460344187436</id><published>2008-04-06T03:24:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T01:30:01.575-07:00</updated><title type='text'>Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tingkat SMP</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; page-break-after: avoid; color: rgb(255, 255, 255);" align="center" lang="fi-FI"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="center" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Model&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="center" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Sekolah Menengah Pertama/&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="center" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Madrasah Tsanamiyah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;I.   Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;b&gt;A.  Rasional &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt; &lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian  dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional.Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;(a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;(b) belajar untuk memahami dan menghayati,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;(c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;(d) belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;(e)belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="es-ES"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;b&gt;B.  Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt; &lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di sekolah/madrasah. Sekolah/madrasah sebagai unit penyelenggara pendidikan juga harus memperhatikan perkembangan dan tantangan masa depan. Perkembangan dan tantangan itu misalnya menyangkut: (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) globalisasi yang memungkinkan sangat cepatnya arus perubahan dan mobilitas antar dan lintas sektor serta tempat, (3) era informasi, (4) pengaruh globalisasi terhadap perubahan perilaku dan moral manusia, (5) berubahnya kesadaran masyarakat dan orang tua terhadap pendidikan, (6) era AFTA. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Tantangan sekaligus peluang itu harus direspon oleh sekolah/madrasah, sehingga visi sekolah/madrasah sesuai dengan arah perkembangan tersebut. Visi tidak lain merupakan citra moral yang menggambarkan profil sekolah/madrasah yang diinginkan di masa datang. Namun demikian, visi sekolah/madrasah harus tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional. Visi juga harus memperhatikan dan mempertimbangkan (1) potensi yang dimiliki sekolah/madrasah, (2) harapan masyarakat yang dilayani sekolah/madrasah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Dalam merumuskan visi, pihak-pihak yang terkait (stakeholders) hendaknya diajak bermusayawarah, sehingga visi sekolah/madrasah mewakili aspirasi berbagai kelompok yang terkait, sehingga seluruh kelompok yang terkait (guru, karyawan, siswa, orang tua, masyarakat, pemerintah) bersama-sama berperan aktif untuk mewujudkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Visi pada umumnya dirumuskan dengan kalimat: (1) filosofis, (2) khas, (3) mudah diingat. Berikut contoh visi yang dirumuskan sekolah/madrasah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;h4 style="color: rgb(255, 255, 255);" class="western" lang="sv-SE"&gt;SMP ”Y”&lt;/h4&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; “&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;MANUSIA SEUTUHNYA YANG BERAKHLAK MULIA, BERKEPRIBADIAN  DAN  BERILMU” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Visi tersebut mencerminkan profil dan cita-cita sekolah/madrasah yang:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;berorientasi ke depan dengan  memperhatikan potensi kekikinian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;sesuai dengan norma dan harapan  masayarakat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;ingin mencapai keunggulan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;mendorong semangat dan komitmen  seluruh warga sekolah/madrasah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;mendorong adanya perubahan yang lebih  baik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;mengarahkan langkah-langkah strategis  (misi) sekolah/madrasah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Untuk mencapai visi tersebut, perlu dilakukan suatu misi berupa kegiatan jangka panjang dengan arah yang jelas. Berikut contoh misi yang dirumuskan berdasarkan visi di atas &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;h4 style="color: rgb(255, 255, 255);" class="western" lang="sv-SE"&gt;SMP ”Y”&lt;/h4&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;1.  Menanamkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;2. Meningkatkan kesadaran peserta didik sebagai makhluk sosial dalam tatanan kemasyarakatan, dan aktif memelihara/melestarikan lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;3. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman langsung sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Misi merupakan kegiatan jangka panjang yang masih perlu diuraikan menjadi beberapa kegiatan yang memiliki tujuan lebih detil dan jelas. Berikut ini contoh tujuan yang diuraikan dari misi di atas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;h6 style="color: rgb(255, 255, 255);" class="western" lang="fi-FI"&gt;Tujuan SMP ”Y”&lt;/h6&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;1. Meningkatkan perilaku akhlak mulia bagi peserta didik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;2. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat peserta didik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;3. Mengembangkan kepribadian manusia yang utuh bagi peserta didik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;4. Mempersiapkan peserta didik sebagai bagian dari anggota masyarakat yang mandiri dan berguna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;5. Mempersiapkan peserta didik dalam melanjutkan pendidikan lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.91cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;b&gt;C.  Pengertian &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan bagian dari perencanaan proses pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-bottom: 0cm; page-break-after: avoid; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;II.  Struktur dan Muatan Kurikulum&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; text-indent: -1.47cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; page-break-after: avoid; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;b&gt;A.  Struktur Kurikulum &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pada struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah berisi  sejumlah mata pelajaran yang harus disampaikan kepada peserta didik.  Mengingat perbedaan individu  sudah barang tentu keluasan dan kedalamannya akan berpengaruh terhadap peserta didik pada setiap satuan pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="nb-NO"&gt;Program pendidikan terdiri dari Pendidikan Umum, Pendidikan Kejuruan, dan Pendidikan Khusus. Pendidikan Umum meliputi tingkat satuan pendidikan sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Pendidikan Kejuruan terdapat pada sekolah menengah kejuruan (SMK).  Pendidikan khusus meliputi sekolah dasar luar biasa(SDLB), sekolah menengah pertama luar biasa(SMPLB), dan sekolah menengah atas luar biasa(SMALB) dan terdiri atas delapan jenis kelainan berdasarkan ketunaan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="nb-NO"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pada program pendidikan di sekolah menengah pertama (SMP) dan yang setara, jumlah jam mata pelajaran sekurang-kurangnya 42 jam pelajaran setiap minggu. Setiap jam pelajaran lamanya 45 menit.  Jenis program pendidikan di SMP dan yang setara, terdiri dari program umum yang meliputi sejumlah mata pelajaran yang wajib diikuti seluruh peserta didik, dan program pilihan meliputi mata pelajaran yang berbasis keunggulan lokal berupa mata pelajaran muatan lokal. Dalam menyesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia, setiap satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, di samping memanfaatkan mata pelajaran lain yang dianggap penting namun tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar  Isi. Dengan adanya tambahan waktu, satuan pendidikan diperkenankan mengadakan penyesuaian-penyesuaian. Misalnya mengadakan program remediasi bagi peserta didik yang belum mencapai standar ketuntasan belajar minimal. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="nb-NO"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; text-indent: -1.47cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; page-break-after: avoid; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="nb-NO"&gt; &lt;b&gt;B.  Muatan Kurikulum &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.25cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="nb-NO"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.25cm; margin-top: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="nb-NO"&gt; &lt;b&gt;1.  Mata pelajaran&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="nb-NO"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Mata pelajaran merupakan materi bahan ajar berdasarkan landasan keilmuan yang akan dibelajarkan kepada peserta didik sebagai beban belajar melalui metode dan pendekatan tertentu. Beban belajar pada mata pelajaran ditentukan oleh keluasan dan kedalaman pada masing-masing tingkat satuan pendidikan. Metode dan pendekatan pada mata pelajaran bergantung pada ciri khas dan karakteristik masing-masing mata pelajaran dengan  menyesuaikan pada kondisi yang tersedia di sekolah. Sejumlah mata pelajaran tersebut terdiri dari mata pelajaran wajib dan pilihan pada setiap satuan pendidikan SD, SMP, SMA, dan SMK.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; text-indent: -0.47cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;a. SD&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Mata pelajaran wajib:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.5cm; text-indent: -0.28cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;- Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Penjas, Seni &amp;amp; Budaya dan Keterampilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.86cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Mata pelajaran pilihan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.86cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;-  Muatan lokal &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; text-indent: -0.47cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;b. SMP&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 2.25cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Mata pelajaran wajib:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.5cm; text-indent: -0.28cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;- Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Penjas, Seni &amp;amp; Budaya, dan Keterampilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.86cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Mata pelajaran pilihan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.5cm; text-indent: -0.28cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;-  Muatan lokal &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; text-indent: -0.47cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;c. SMA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Mata pelajaran wajib:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.5cm; text-indent: -0.28cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;- Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, Kimia, Fisika, Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Penjas, Seni &amp;amp; Budaya, dan Teknologi Informasi Komunikasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.86cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Mata pelajaran pilihan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.86cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;-  Bahasa Asing &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.25cm; margin-top: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt; &lt;b&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;2.  Muatan Lokal&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt; &lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjadi bagian dari mata pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri. Substansi muatan lokal ditentukan oleh sekolah, tidak terbatas pada mata pelajaran seni-budaya dan keterampilan, tetapi juga mata pelajaran lainnya, seperti bahasa Inggris di SD, dan TIK di SMP. Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga sekolah harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Sekolah dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester, atau dua mata pelajaran muatan lokal dalam satu tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.91cm; text-indent: -0.66cm; margin-top: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;b&gt;3.  Kegiatan Pengembangan Diri&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri di bawah bimbingan konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan ekstrakurikuler, seperti kepramukaan, kepemimpinan, kelompok seni-budaya, kelompok tim olahraga, dan kelompok ilmiah remaja. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pada sekolah menengah kejuruan, pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pada satuan pendidikan khusus, pengembangan diri lebih menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif, tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.91cm; text-indent: -0.66cm; margin-top: 0.42cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="it-IT"&gt; &lt;b&gt;4.  Pengaturan Beban Belajar &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="it-IT"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Beban belajar ditentukan berdasarkan penggunaan sistem pengelolaan program pendidikan yang berlaku di sekolah. Sistem tersebut terdiri dari sistem paket dan sistem kredit semester (SKS). Adapun pengaturan beban belajar pada kedua sistem tersebut sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="it-IT"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;a. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB baik kategori standar maupun mandiri, SMA/MA/SMALB /SMK/MAK kategori standar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.25cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="it-IT"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) dapat digunakan oleh SMP/MTs/SMPLB kategori mandiri, dan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori standar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.25cm; text-indent: -0.03cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="it-IT"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) digunakan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="it-IT"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;b. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Pengaturan  alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="it-IT"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;c.  Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% - 40%, SMP/MTs/SMPLB 0% - 50% dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% -  60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;d.  Alokasi waktu untuk praktik, dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.25cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;e.  Alokasi waktu untuk tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKS mengikuti aturan sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas:  40 menit tatap muka, 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan  mandiri tidak terstruktur.   &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri  atas: 45 menit tatap muka, 25 menit kegiatan terstruktur dan  kegiatan mandiri tidak terstruktur.   &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-left: 2.86cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;                                  &lt;p style="margin-left: 2.25cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt; &lt;b&gt;Alur penerapan sistem pendidikan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 2.25cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pemilihan mata pelajaran oleh siswa di SMP harus dibimbing oleh guru pembimbing. Seorang guru dapat membimbing 5 sampai 8 siswa dalam menetapkan mata pelajaran yang akan ditempuhnya pada semester tertentu. Setiap siswa tidak mesti mempunyai &lt;b&gt;“&lt;/b&gt;beban&lt;b&gt;”&lt;/b&gt; kredit semester yang sama. Pertimbangan dari guru pembimbing dan dari orangtua dapat dipergunakan sebagai rujukan untuk menentukan besarnya jumlah beban kredit semester yang akan ditempuh oleh siswa. Berdasarkan hal tersebut, maka dimungkinkan adanya kelas “susul atau remidi” bagi siswa&lt;b&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 2.22cm; text-indent: -0.97cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;5. Ketuntasan Belajar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Ketuntasan belajar setiap indikator yang dikembangkan sebagai suatu pencapaian hasil belajar dari suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Sekolah harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Sekolah secara bertahap dan berkelanjutan selalu mengusahakan peningkatan kriteria ketuntasan belajar untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; text-indent: -0.5cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;b&gt;6. Kenaikan Kelas dan Kelulusan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.5cm; text-indent: -0.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;a.    menyelesaikan seluruh program pembelajaran;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.5cm; text-indent: -0.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;b.  memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.5cm; text-indent: -0.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;c.  lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.5cm; text-indent: -0.75cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;d.    lulus Ujian Nasional.&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.22cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.95cm; text-indent: -0.95cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;III. Kalender Pendidikan &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5cm; text-indent: 0.13cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan mencakup  permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setiap permulaan tahun pelajaran, sekolah/madrasah menyusun kalender pendidikan untuk mengatur waktu kegiatan pembelajaran selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Pengaturan waktu belajar di sekolah/madrasah mengacu kepada Standar Isi dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah/madrasah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, serta ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="pt-BR"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam menyusun kalender pendidikan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;permulaan  tahun pelajaran  adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada  awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Permulaan tahun  pelajaran telah ditetapkan oleh Pemerintah yaitu bulan Juli setiap  tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;minggu  efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran  untuk  setiap tahun pelajaran. Sekolah/madrasah dapat mengalokasikan  lamanya minggu efektif belajar sesuai dengan keadaan dan  kebutuhannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;waktu  pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu,  meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran  termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan  pengembangan diri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;waktu  libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan  pembelajaran terjadwal. Hari libur sekolah/madrasah ditetapkan  berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri  Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala  Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi penyelenggara  pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;waktu  libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester,  libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum  termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;libur  jeda tengah semester, jeda antarsemester, libur akhir tahun  pelajaran digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir  dan awal tahun. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sekolah/madrasah-sekolah  pada daerah tertentu yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang  dapat mengatur hari libur keagamaan sendiri tanpa mengurangi jumlah  minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bagi  sekolah/madrasah yang memerlukan kegiatan khusus dapat  mengalokasikan waktu secara khusus tanpa mengurangi jumlah minggu  efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.42cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hari  libur umum/nasional atau penetapan hari serentak untuk setiap  jenjang dan jenis pendidikan disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah  Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="sdfootnote" style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="pt-BR"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; page-break-before: always; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="pt-BR"&gt; &lt;b&gt;Lampiran I : Silabus  (Contoh)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="pt-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="pt-BR"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SATUAN PENDIDIKAN  : SEKOLAH MENENGAH PERTAMA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="pt-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MATA PELAJARAN    : Ilmu Pengetahuan Alam  (IPA)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kelas VII, Semester 1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Standar Kompetensi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Memahami  prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan  menggunakan peralatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Materi Pokok:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Besaran dan Satuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Alokasi Waktu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="id-ID"&gt;   &lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2 x 45’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;table style="color: rgb(255, 255, 255);" border="1" cellpadding="7" cellspacing="0" width="565"&gt;  &lt;col width="90"&gt;  &lt;col width="153"&gt;  &lt;col width="202"&gt;  &lt;col width="62"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td height="11" width="90"&gt;     &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Kompetensi     Dasar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="153"&gt;     &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Indikator&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="202"&gt;     &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Pengalaman     belajar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="62"&gt;     &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Penilaian&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td rowspan="3" width="90"&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.1     Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta     satuannya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td height="97" width="153"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengidentifikasi      besaran-besaran fisika dalam kehidupan sehari-hari kemudian      mengelompokkannya ke dalam besaran pokok dan turunan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="202"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menunjukkan      beberapa besaran  yang biasa digunakan sehari-hari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Membedakan      besaran-besaran tersebut sebagai besaran pokok dan besaran      turunan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mendiskusikan      pengertian besaran pokok dan besaran turunan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="62"&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tes     tertulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td height="37" width="153"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menggunakan      satuan Internasional dalam pengukuran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="202"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menunjukkan      beberapa satuan yang biasa digunakan secara internasional&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menggunakan      satuan internasional dalam melakukan pengukuran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="62"&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tes     tertulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tes     kinerja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td height="32" width="153"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="de-DE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengkonversi      satuan panjang, massa dan waktu secara sederhana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="202"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mendiskusikan      cara mengkonversi satuan dari besaran yang sejenis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menunjukkan      konversi satuan dari suatu besaran yang sejenis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="62"&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tes     tertulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;Sumber/ alat belajar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;buku  teks&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;alat  ukur (timbangan, mistar, dan stopwatch) &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="margin-left: 2.75cm; text-indent: -2.75cm; margin-bottom: 0cm; page-break-before: always; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="fi-FI"&gt; &lt;b&gt;Lampiran II : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) (Contoh)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SATUAN PENDIDIKAN  : SEKOLAH MENENGAH PERTAMA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MATA PELAJARAN    : Ilmu Pengetahuan Alam  (IPA)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kelas VII, Semester 1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Standar Kompetensi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kompetensi Dasar:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tujuan Pembelajaran:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5cm; margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peserta didik mampu membedakan antara besaran pokok dan besaran turunan, menentukan satuan yang sesuai dengan besarannya dan melakukan konversi beberapa satuan, serta menggunakan beberapa besaran (panjang, massa, dan waktu) dengan satuan yang bersesuaian dalam melalkukan pengukuran &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Materi Pokok:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Besaran dan Satuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;Sumber/ alat belajar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;buku  teks&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;alat  ukur (timbangan, mistar, dan stopwatch) &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;table style="color: rgb(255, 255, 255);" border="1" cellpadding="7" cellspacing="0" width="595"&gt;  &lt;col width="152"&gt;  &lt;col width="202"&gt;  &lt;col width="92"&gt;  &lt;col width="92"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td height="11" width="152"&gt;     &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Indikator&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="202"&gt;     &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Pengalaman     belajar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="92"&gt;     &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Metode     &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="92"&gt;     &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Penilaian&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td height="97" width="152"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengidentifikasi      besaran-besaran fisika dalam kehidupan sehari-hari kemudian      mengelompokkannya ke dalam besaran pokok dan turunan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="202"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menunjukkan      beberapa besaran  yang biasa digunakan sehari-hari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Membedakan      besaran-besaran tersebut sebagai besaran pokok dan besaran      turunan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mendiskusikan      pengertian besaran pokok dan besaran turunan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="92"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tanya-jawab      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diskusi      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;p style="margin-left: 0.64cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="92"&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tes     tertulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td height="37" width="152"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menggunakan      satuan Internasional dalam pengukuran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="202"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menunjukkan      beberapa satuan yang biasa digunakan secara internasional&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menggunakan      satuan internasional dalam melakukan pengukuran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="92"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tanya-jawab&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Demonstrasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diskusi      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;p style="margin-left: 0.64cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="92"&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tes     tertulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tes     kinerja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td height="32" width="152"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p lang="de-DE"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengkonversi      satuan panjang, massa dan waktu secara sederhana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="202"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mendiskusikan      cara mengkonversi satuan dari besaran yang sejenis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menunjukkan      konversi satuan dari suatu besaran yang sejenis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="92"&gt;     &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tanya      jawab&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diskusi      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/p&gt;     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;p style="margin-left: 0.64cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="92"&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tes     tertulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Lampiran III : Contoh Dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;     (SD, SMP, SMA, SMK, Pendidikan Khusus)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-6849473460344187436?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/6849473460344187436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=6849473460344187436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/6849473460344187436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/6849473460344187436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/04/kurikulum-tingkat-satuan-pendidikan.html' title='Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tingkat SMP'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-2162381114439325141</id><published>2008-04-06T03:16:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T03:51:00.162-07:00</updated><title type='text'>Permendiknas No. 24 Tahun 2006</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PERATURAN &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: center; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;REPUBLIK INDONESIA &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 class="western" style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt; &lt;/h2&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;NOMOR 24 TAHUN 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 class="western" style="text-decoration: none; text-align: center; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;TENTANG&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;PELAKSANAAN &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR  22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI  UNTUK SATUAN  PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN  NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006  TENTANG  STANDAR  KOMPETENSI &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;LULUSAN UNTUK SATUAN  PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -2.54cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 3.18cm; text-indent: -3.18cm; margin-bottom: 0.28cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);"&gt; &lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Menimbang : bahwa agar Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22                       Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dapat dilaksanakan di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah secara baik, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  tentang  Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 3.81cm; text-indent: -3.8cm; margin-bottom: 0.28cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);"&gt; &lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="2"&gt;&lt;ol&gt;&lt;ol start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.28cm; widows: 0; orphans: 0;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Peraturan    Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan    (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan    Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.28cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.28cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="2"&gt;&lt;ol&gt;&lt;ol start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.28cm; widows: 0; orphans: 0;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peraturan    Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,    Susunan Organisasi, dan Tatakerja Kementrian Negara Republik    Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor    62 Tahun 2005;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.28cm; widows: 0; orphans: 0;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Keputusan    Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai Pembentukan Kabinet    Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir     dengan Keputusan Presiden  Nomor 20/P Tahun 2005;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.28cm; widows: 0; orphans: 0;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Peraturan    Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang  Standar    Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.28cm; widows: 0; orphans: 0;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Peraturan    Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang   Standar    Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 4.45cm; text-indent: -0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;MEMUTUSKAN:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 3.49cm; text-indent: -3.49cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 3.81cm; text-indent: -3.81cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG    PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI  UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN  NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR KOMPETENSI LULUSAN UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 3.81cm; text-indent: -3.81cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasal 1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Satuan  pendidikan  dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan  kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai  kebutuhan satuan pendidikan   yang bersangkutan berdasarkan pada : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Undang-Undang   Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36   sampai dengan Pasal 38;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Peraturan   Pemerintah   Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional   Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18, dan Pasal 25 sampai   dengan Pasal 27;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Peraturan   Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar   Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Peraturan   Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar   Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Satuan  pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan   standar yang lebih tinggi dari Standar Isi  sebagaimana  diatur  dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 22 Tahun 2006  tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan  Standar Kompentesi Lulusan sebagaimana diatur dalam Peraturan  Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar  Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pengembangan  dan penetapan  kurikulum tingkat satuan pendidikan    dasar dan  menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan  pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional  Pendidikan (BSNP).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="4"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Satuan  pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi  model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang  disusun oleh BSNP.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="5"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Kurikulum  satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan  pendidikan dasar dan menengah setelah  memperhatikan pertimbangan  dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasal 2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Satuan  pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk  Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi  Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah mulai tahun  ajaran 2006/2007.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: -0.11cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Satuan  pendidikan  dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang  Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan  Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar  Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah    paling lambat tahun ajaran 2009/2010.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Satuan&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan dasar dan menengah  pada jenjang pendidikan dasar  dan menengah yang telah melaksanakan  uji coba kurikulum 2004 secara  menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk  Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi  Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah  untuk  semua  tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="4"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Satuan  pendidikan dasar dan menengah  yang belum melaksanakan uji coba  kurikulum 2004, melaksanakan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan  Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor  23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan  Pendidikan Dasar dan Menengah secara bertahap dalam waktu paling  lama 3 tahun, dengan tahapan :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Untuk   sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiyah (MI),  dan sekolah dasar   luar biasa (SDLB):&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  - tahun I : kelas 1 dan 4;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  - tahun II : kelas 1,2,4, dan 5;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  - tahun  III : kelas 1,2,3,4,5 dan 6.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;ol start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Untuk   sekolah menengah pertama (SMP), madrasah tsanawiyah (MTs), sekolah   menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah   kejuruan (SMK), madrasah aliyah kejuruan (MAK), sekolah menengah   pertama luar biasa (SMPLB), dan sekolah menengah atas luar biasa   (SMALB) :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;  - tahun I : kelas 1;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;  - tahun II : kelas 1 dan 2;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.32cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;  - tahun III : kelas 1,2, dan 3.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.32cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="5"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Penyimpangan  terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat  dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.32cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.32cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasal  3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.32cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Gubernur  dapat mengatur jadwal pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan  Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan  Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,  untuk satuan pendidikan  menengah dan satuan pendidikan khusus,  disesuaikan  dengan kondisi  dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Bupati/walikota  dapat mengatur jadwal pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan  Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan  Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, untuk satuan pendidikan  dasar,   disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan  di kabupaten/kota masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Menteri  Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan  Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan  Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, untuk satuan pendidikan  madrasah ibtidaiyah (MI),  madrasah tsanawiyah (MTs),  madrasah  aliyah (MA), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK),  disesuaikan dengan  kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pasal 4&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;BSNP  melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Peraturan  Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi  Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi  Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, pada tingkat  satuan pendidikan, secara nasional.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;BSNP  dapat mengajukan usul revisi  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan  Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor  23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan  Pendidikan Dasar dan Menengah  sesuai dengan keperluan berdasarkan  pemantauan hasil evaluasi sebagaimana  dimaksud pada ayat (1).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 1.91cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pasal 5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 1.91cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Direktorat Jenderal  Manajemen  Pendidikan Dasar dan Menengah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;menggandakan   Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang   Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan   Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang   Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan   Menengah,  serta mendistribusikannya kepada setiap satuan   pendidikan secara nasional;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;melakukan   usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan   dasar dan menengah dapat  mendukung penerapan Peraturan Menteri   Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk   Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri   Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi   Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.95cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.95cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasal 6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.95cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Direktorat  Jenderal  Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="2"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;melakukan   sosialisasi   Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun   2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah   dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006   tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar   dan Menengah, dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan   pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP,  terhadap guru,   kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan lainnya yang   relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)  dan/atau    Pusat  Pengembangan  dan Penataran Guru (PPPG);&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;melakukan   sosialisasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun   2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah   dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006   tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar   dan Menengah, dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan   pendidikan dasar dan menengah yang disusun  BSNP &lt;span lang="sv-SE"&gt;kepada   dinas pendidikan provinsi,  dinas pendidikan kabupaten/kota, dan   dewan pendidikan;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;membantu   pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan   pendidikan dasar dan menengah agar   dapat memenuhi &lt;/span&gt;Peraturan   Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi   Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri   Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi   Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, &lt;span lang="sv-SE"&gt;   &lt;/span&gt;melalui LPMP.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasal 7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;mengembangkan  model-model kurikulum  sebagai masukan bagi BSNP;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;mengembangkan  dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;mengembangkan  dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;bekerjasama  dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan  satuan  pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan  pendidikan dasar dan menengah;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;memonitor  secara nasional penerapan &lt;/span&gt;Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan  Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan  Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,  &lt;span lang="sv-SE"&gt;  mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP  dan/atau Menteri;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;m&lt;span lang="sv-SE"&gt;engembangkan  pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan &lt;/span&gt;Peraturan  Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi  Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi  Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah&lt;span lang="sv-SE"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pasal 8&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Direktorat Jenderal  Pendidikan Tinggi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;melakukan  sosialisasi  &lt;/span&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22  Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan  Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun  2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan  Dasar dan Menengah, &lt;span lang="sv-SE"&gt;  di kalangan lembaga  pendidikan tenaga keguruan (LPTK);&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);" start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;memfasilitasi  pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung  pelaksanaan &lt;/span&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22  Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan  Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun  2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan  Dasar dan Menengah&lt;span lang="sv-SE"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasal 9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Sekretariat Jenderal   m&lt;span lang="sv-SE"&gt;elakukan sosialisasi &lt;/span&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, &lt;span lang="sv-SE"&gt;kepada pemangku kepentingan umum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Pasal 10&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan         menengah :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;melakukan  sosialisasi  &lt;/span&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22  Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan  Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun  2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan  Dasar dan Menengah&lt;span lang="sv-SE"&gt; sesuai dengan kewenangannya  dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;mengusahakan  secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana, prasarana,  dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah  kewenangannya mendukung  pelaksanaan  &lt;/span&gt;Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk  Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi  Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan  Menengah&lt;span lang="sv-SE"&gt;;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;melakukan  supervisi, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan &lt;/span&gt;Peraturan  Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi  Untuk Satuan pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi  Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah&lt;span lang="sv-SE"&gt;  sesuai dengan kewenangannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasal 11&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nomor  060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nomor  061/U/1993 tentang  Kurikulum Sekolah Menengah Umum;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nomor  080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan; dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Nomor  0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah  yang bersangkutan melaksanakan Peraturan Menteri ini sebagaimana diatur dalam  Pasal 2 dan Pasal 3.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasal 12&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 8.26cm; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 8.26cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;pada tanggal 2 Juni 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 8.26cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 8.26cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 8.26cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;TTD.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 8.26cm; widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;BAMBANG SUDIBYO&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0; color: rgb(0, 153, 0);" align="left"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: www.google.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="widows: 0; orphans: 0;" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-2162381114439325141?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/2162381114439325141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=2162381114439325141' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/2162381114439325141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/2162381114439325141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/04/permendiknas-no-24-tahun-2006.html' title='Permendiknas No. 24 Tahun 2006'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-228312022753584407</id><published>2008-04-06T03:15:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T03:48:31.866-07:00</updated><title type='text'>Teori kurikulum</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 153); text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;TEORI KURIKULUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;DEFINISI  DAN FUNGSI DARI TEORI KURIKULUM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Teori kurikulum sangat penting bagi para ahli dan praktisi, sebab teori ini menyediakan seperangkat konseptual untuk penelitian proposal kurikulum, mampu menjelaskan praktek, dan memandu perubahan Suatu teori kurikulum adalah seperangkat konsep bidang pendidikan yang sistematis yang memperjelas gejala/ aspek kurikulum.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;" start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times-Roman,serif;"&gt;&lt;b&gt;DASAR  PENGEMBANGAN KURIKULUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Langkah-langkah pengembangan teori.menurut Faix'S ( 1964)&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Tahap   1&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Times-Italic,serif;"&gt;Basic theory &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;adalah   suatu langkah awal yang bersifat untung-untungan, di mana suatu   teori belum dihubungkan dengan data empiris. &lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Tahap   2 Middle-Range&lt;span style="font-family:Times-Italic,serif;"&gt; theory&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;   meliputi hipotesis yang telah diuji dengan pengalaman. &lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Tahap   3&lt;span style="font-family:Times-Italic,serif;"&gt; General theory&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;adalah   suatu sistem teori umum atau suatu bagan konseptual inclusive untuk   menjelaskan suatu keseluruhan alam semesta. &lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;PERAN  KEPEMIMPINAN DALAM TEORI KURIKULUM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kebutuhan akan kepemimpinan dan perencanaan teoritis dalam kurikulum sekolah adalah suatu yang utama dalam pendidikan yang berlevel global. Kurikulum baru perlu difamiliarkan dengan suatu spektrum teori kurikulum yang berkisar dari tingkah laku sampai sikap kritis. Area tinjauan ulang untuk para pemimpin kurikulum masa depan meliputi pengembangan kurikulum, teori dan praktek, dimensi mikro dan makro dalam kurikulum, etos dan pertimbangan budaya, dinamisasi proses kurikulum, pengaruh teknologi pada kurikulum, model dan proses instruksional disain, model dan proses pengembangan strategi belajar, identifikasi dan implementasi metode pengajaran sesuai teknik,model dan teknik penilaian dan proses evaluasi, staf pengembangan yang diperlukan, aplikasi praktek disain kurikulum dan produk hasil kerja  praktis per siswa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="4"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;PENGGOLONGAN  TEORI KURIKULUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:Times-Roman,serif;" &gt;Penggolongan menurut McNeil (1985) yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;kurikulum sederhana/ mudah dan kurikulum kompleks/ sulit. Pinar (&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:Times-Roman,serif;" &gt;1978) &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;menggolongkan teori kurikulum menjadi 3, yaitu  &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Aliran Tradisional&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;. Tyler memandang kurikulum sebagai kelas, guru, kursus, unit, pelajaran, dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:Times-Roman,serif;" &gt;Hirsch memasukkan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;konsep pengetahuan dasar dan budaya literasi dalam kurikulum sekolah. &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Aliran Empirisme Konseptual &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;terfokus pada metodologi riset dari ilmu-ilmu eksakta  dan mencoba untuk menghasilkan penyamarataan yang akan memungkinkan pendidik untuk mengendalikan dan meramalkan apa yang terjadi di sekolah. &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Aliran Rekonseptualis, &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;menekankan kesubyektipan, pengalaman eksistensial, dan seni penafsiran dalam rangka mengungkapkan konflik kelas dan hubungan kekuasaan yang berbeda yang ada dalam&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;masyarakat yang lebih besar.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Eisner dan Vallance (1974) menggolongkan teori kurikulum kedalam 5 konsepsi. (1) Kurikulum yang berorientasi pada aspek kognitif,&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;terkait dengan pengembangan intelektual.(2) Kurikulum yang berbasis teknologi, dalam hal ini fungsi kurikulum terutama adalah untuk menemukan alat-alat efisien.(3) Kurikulum yang berorientasi pada aktualisasi diri, memandang kurikulum sebagai pengalaman yang didesain untuk menghasilkan pertumbuhan pribadi.(4) Kurikulum yang berorientasi pada rekonstruksi social, menekankan pada kebutuhan bermasyarakat.(5) Kurikulum berorientasi pada rasionalisme akademis, menekankan pentingnya standard disiplin dalam membantu yang muda berpartisipasi dalam tradisi kultural barat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Huenecke'S (1982) menggolongkan 4 jenis  teori kurikulum, yaitu (1) Teori yang berorientasi pada structural,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:Times-Roman,serif;" &gt; menganalisis komponen kurikulum dan hubungan timbal balik antarkomponen. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;(2) Teori yang berorientasi pada nilai, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:Times-Roman,serif;" &gt;mengutamakan analisis nilai dan asumsi dari pembuatan kurikulum serta produk yang dihasilkan oleh para pembuat kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt; (3) Teori yang berorientasi pada isi, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:Times-Roman,serif;" &gt;berkonsentrasi pada isi dari kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;(4) Teori yang berorientasi pada proses, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times-Roman,serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;berkonsentrasi pada bagaimana kurikulum dikembangkan.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;" start="5"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Times-Roman,serif;"&gt;&lt;b&gt;TEKNOLOGI  SEBAGAI KATALISATOR PERUBAHAN KURUKULUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;"&gt; Teknologi sebagai katalisator untuk perubahan. Kemajuan teknologi memberi peluang bagi praktisi untuk melakukan penilaian, analisa, disain, pengembangan, implementasi, evaluasi, dan kegiatan lanjujtan. Penggunaan teknologi juga mempromosikan investigasi ketrampilan, belajar lebih menggairahkan, menyediakan peluang untuk menerapkan pengetahuan.Untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil keuntungan dari teknologi yang baru berarti tidak hanya sebatas mereka mempunyai akses terhadap teknologi, tetapi juga memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan yang penting membuat penggunaan teknologi menjadi lebih efektif. Konsep teknologi dengan menggunakan strategi belajar kooperasi dapat dimasukkan sebagai strategi kurikulum.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;DEFINISI / HAKIKAT KURIKULUM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Tujuan utama untuk menyediakan ikhtisar bidang kurikulum bagi pembaca dan seperangkat konsep untuk penelitian bidang tersebut. . Fokus dari pembahasan ini adalah melukiskan konsep tentang kurikulum, menguji beberapa jenis kurikulum, membandingkan komponen kurikulum, dan meneliti kurikulum tersembunyi.&lt;/span&gt;  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;KONSEP  KURIKULUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum adalah suatu rencana, suatu program yang diharapkan, atau tentang kebutuhan yang diperlukan  selama studi berlangsung. Kurikulum mengacu pada suatu rencana tertulis yang menguraikan apa yang  akan dipelajari para siswa. Kurikulum adalah suatu metode dan pengetahuan yang ditentukan yang dapat dikomunikasikan. Kurikulum harus dapat diwujudkan dalam kelas riil, misalnya kurikulum yang berbasis pada pengalaman para siswa di bawah bimbingan para guru. Kurikulum menjadi rencana yang dibuat untuk memandu pelajaran didalam sekolah tersebut, yang pada umumnya dalam bentuk dokumen yang &lt;i&gt;retrievable&lt;/i&gt; serta aktualisasi semua rencana tersebut didalam kelas. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Beberapa poin yang perlu ditekankan dalam definisi tersebut. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, istilah kurikulum meliputi kedua-duanya (rencana yang dibuat untuk pelajaran dan pengalaman pelajaran yang nyata disajikan). &lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; kurikulum merupakan &lt;i&gt;retrievable document, &lt;/i&gt;yang denotasinya meliputi kurikulum berbasis perangkat lunak komputer maupun internet, juga yang merupakan hasil perumusan kebijakan kurikulum, seperti yang lebih spesifik adalah rencana pelaksanaan pembelajaran. .&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, definisi kurikulum mencakup dua dimensi dari aktualisasi kurikulum, yaitu kurikulum sebagai pengalaman dan kurikulum yang dapat diamati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;JENIS  KURIKULUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum  Yang Direkomendasikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum yang direkomendasikan oleh sarjana individu, asosiasi profesional, komisi pengawas dan pembuat kebijakan.  Dirumuskan lebih umum. Fungsinya lebih ke rekomendasi tentang kebutuhan dan kebijakan, serta mempromosikan hak kekayaan dan keunggulan intelektual mereka untuk semua siswa. Poin yang perlu dipertimbangkan bahwa standar bukanlah suatu kurikulum nasional. Standar adalah suatu usaha untuk menggambarkan apa yang para siswa  harus bisa mengetahui dan lakukan. Standard dapat dijumpai melalui suatu variasi strategi dan gaya pengajaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum  Yang Tertulis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Merupakan kurikulum formal, kurikulum yang diharapkan terutama semata-mata untuk  memastikan bahwa hasil akhir dari  sistem bidang pendidikan sedang terpenuhi. Dirumuskan secara lebih spesifik dan menyeluruh dibanding kurikulum yang direkomendasikan, menandakan suatu dasar pemikiran yang mendukung kurikulum, hasil akhir yang harus tercapai, sasaran khusus untuk dikuasai, urutan dimana sasaran hasil itu harus dipelajari, dan macam aktivitas pelajaran yang harus digunakan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum  Yang Didukung&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Kurikulum yang direfleksikan dan dibentuk oleh sumber daya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; yang dialokasikan untuk mendukung kurikulum tersebut, yaitu  alokasi waktu,  alokasi personil , buku teks, dan materi pelajaran. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="4"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  Kurikulum Yang Diajarkan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum yang diajarkan merupakan bentuk transfer/ pengiriman isi kurikulum, sebuah kurikulum yang oleh seorang pengamat dilihat sebagai aksi guru mengajar. Dalam hal ini guru harus berpikir, merencanakan, dan membuat keputusan. Keputusan guru tentang kurikulum adalah suatu produk dari banyak variabel saling berinteraksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="5"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  Kurikulum Yang Diuji&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Merupakan satuan pelajaran yang ditaksir dalam tes kelas yang dibuat oleh guru dan distandardisasi. Tes yang dibuat harus disesuaikan dengan apa yang diajarkan. Komponen kurikulum menentukan ketepatan antara apa yang diajar dan apa yang dipelajari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="6"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  Kurikulum Yang Dipelajari&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Istilah kurikulum yang dipelajari digunakan untuk menandakan semua perubahan dalam nilai-nilai, persepsi, dan perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;KOMPONEN  KURIKULUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Meliputi hasil akhir kurikulum, kebijakan kurikulum, bidang studi, program studi, bahan pengajaran, unit studi, pelajaran. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="4"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;PENGUASAAN,  ORGANIK, DAN PENGAYAAN KURIKULUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Langkah-langkahnya, (1) membagi pelajaran  ke dalam  bidang dasar dan bidang pengayaan. Dasar apabila dalam pandangan pendidik dianggap penting bagi semua siswa. Pengayaan mengaju pada pelajaran yang menjadi ketrampilan dan pengetahuan yang menarik dan memperkaya, tetapi tidaklah dianggap begitu penting. (2) membagi dasar pelajaran ke dalam pembelajaran berstruktur dan pembelajaran yang tidak berstruktur. Istilah digunakan di sini, mempunyai empat karakteristik, yaitu peruntunan, perencanaan, hasil terukur, dan isi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="5"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;KURIKULUM  TERSEMBUNYI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Merupakan kurikulum yang tidak dipelajari. Kurikulum yang tersembunyi dapat dilihat  dari aspek yang menyangkut kurikulum yang dipelajari yang berada di luar  batasan-batasan dari  usaha yang sengaja dibuat oleh sekolah. Salah satu dari  kurikulum tersembunyi adalah sekolah sebagai suatu organisasi kelas. Para guru menghabiskan banyak waktu untuk mengevaluasi dan memberi umpan balik yang evaluatif. Dalam hal ini, para siswa tanpa disadari belajar ketrampilan, belajar bagaimana cara tepat pada waktunya, bersih, patuh, dan penyelarasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" start="6"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;VARIABEL  DARI KURIKULUM TERSEMBUNYI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Variabel   Organisasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Digunakan untuk mengangkat semua keputusan tentang bagaimana para guru akan   ditugaskan dan para siswa dikelompokkan untuk menjalankan instruksi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;ol start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Variabel   Sistem Sosial&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sebagai suatu aspek/ pengarah sekolah dalam dimensi social, terkait dengan hubungan orang lain dan kelompok masyarakat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;ol start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Variabel   Kultur/ Budaya &lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Digambarkan sebagai dimensi sosial terkait dengan kepercayaan sistem, nilai-nilai, struktur teori, dan maksud/ arti. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;KTSP JIKA DITINJAU DARI &lt;i&gt;CURRICULUM THEORY&lt;/i&gt; DAN &lt;i&gt;THE NATURE OF CURRICULUM&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Landasan Yuridis KTSP&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;UU  No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;PP  No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Permendiknas  No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Permendiknas  No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Permendiknas  No. 24 Tahun 2006  dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007 tentang  pelaksanaan Permendiknas  No. 22 dan 23 Tahun 2006&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang=""&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;b&gt;&lt;i&gt;Argumentasinya bahwa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Dilihat   dari mekanisme penyusunannya, KTSP adalah kurikulum operasional    yang disusun secara sistematis dan terperinci yang meliputi   &lt;/span&gt;penyiapan dan penyusunan draft, review dan revisi, serta   finalisasi,&lt;span lang="sv-SE"&gt; serta dilaksanakan oleh   masing-masing satuan pendidikan. &lt;/span&gt;KTSP.  Adapun mekanisme   penyusunan KTSP terlihat pada Gambar 6.1&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang=""&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hal ini selaras dengan konsep &lt;i&gt;curriculum theory &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; the nature of curriculum&lt;/i&gt; . Di dalam &lt;i&gt;curriculum theory, &lt;/i&gt;kurikulum adalah seperangkat konsep bidang pendidikan yang sistematis yang memperjelas gejala/ aspek kurikulum. Sedangkan &lt;i&gt;the nature of curriculum&lt;/i&gt;, menjelaskan konsep kurikulum sebagai berikut. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, istilah kurikulum meliputi kedua-duanya (rencana yang dibuat untuk pelajaran dan pengalaman pelajaran yang nyata disajikan). &lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; kurikulum merupakan &lt;i&gt;retrievable document, &lt;/i&gt;yang denotasinya meliputi kurikulum berbasis perangkat lunak komputer maupun internet, juga yang merupakan hasil perumusan kebijakan kurikulum, seperti yang lebih spesifik adalah rencana pelaksanaan pembelajaran. .&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, definisi kurikulum mencakup dua dimensi dari aktualisasi kurikulum, yaitu kurikulum sebagai pengalaman dan kurikulum yang dapat diamati. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dalam hal ini, KTSP merupakan suatu perencanaan yang dibuat untuk pelajaran sekaligus berisi pengalaman pelajaran riil yang akan dilaksanakan di kelas. Hal ini juga selaras dengan konsep pada &lt;i&gt;curriculum theory&lt;/i&gt;, yang memposisikan perencanaan teoritis dalam kurikulum sekolah adalah suatu yang utama. Wujud konkret dari dari aplikasi teori ini bahwa dalam KTSP dikenal adanya Silabus dan RPP dari SK/ KD yang dikembangkan pusat serta Silabus dan RPP dari SK/ KD yang dikembangkan Sekolah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Dilihat   dari &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;acuan operasional penyusunan KTSP,   maka KTSP disusun berdasarkan prinsip &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Peningkatan  iman dan takwa serta akhlak mulia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Peningkatan  potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan  dan kemampuan peserta didik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman potensi,  minat, kecerdasan intelektual, emosional, spritual, dan kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Keragaman  potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh karena itu kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tuntutan  pembangunan daerah dan nasional&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="es-ES"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pengembangan kurikulum harus memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan daerah dan nasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tuntutan  dunia kerja&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum harus memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja, khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Perkembangan  ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" lang="sv-SE"&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Agama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum harus dikembangkan untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan umat beragama, dan memperhatikan norma agama yang berlaku di lingkungan sekolah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dinamika  perkembangan global&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum harus dikembangkan agar peserta didik mampu bersaing secara global dan dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Persatuan  nasional dan nilai-nilai kebangsaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="fi-FI"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum harus mendorong wawasan dan sikap kebangsaan dan persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam  Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kondisi  sosial budaya masyarakat setempat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kesetaraan  Jender&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kurikulum harus diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan  mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan jender.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Karakteristik  satuan pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 2.22cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Adapun di dalam &lt;i&gt;curriculum theory&lt;/i&gt; dan&lt;i&gt; the nature of curriculum&lt;/i&gt; menyangkut pada peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik, keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan, tuntutan dunia kerja, perkembangan iptek, dinamika perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (idiologi kebangsaan), kondisi sosial budaya masyarakat setempat (variable kulture), kesetaraan jender (nondiskriminasi). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Penyusunan visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan dalam KTSP juga selaras dengan &lt;i&gt;curriculum theory&lt;/i&gt; dan&lt;i&gt; the nature of curriculum&lt;/i&gt;, yang menyangkut (1)&lt;b&gt; &lt;/b&gt;apa yg hrs dicapai siswa berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah mereka menamatkan sekolah (hasil belajar siswa), (2) suasana pembelajaran seperti apa yg dikehendaki untuk mencapai hasil belajar itu (suasana pembelajaran), (3) suasana sekolah yang seperti apa seperti apa yg diinginkan untuk mewujudkan hasil belajar bagi siswa (sekolah sebagai lembaga/ organisasi pembelajaran). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.   &lt;span lang="sv-SE"&gt;Dilihat dari &lt;/span&gt;komponen KTSP yang meliputi &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tujuan  Pendidikan Sekolah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Struktur  dan Muatan Kurikulum (mata pelajaran. Muatan lokal, Pengembangan  Diri, Beban Belajar, Ketuntasan Belajar, Kenaikan Kelas dan  kelulusan, Penjurusan, Pendidikan Kecakapan Hidup, Pendidikan  Berbasis Keunggulan Lokal dan Global). &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kalender  Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Silabus  dan RPP&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hal ini juga selaras dengan komponen kurikulum yang ditawarkan &lt;i&gt;the nature of curriculum&lt;/i&gt;, yang meliputi hasil akhir kurikulum, kebijakan kurikulum, bidang studi, program studi, bahan pengajaran, unit studi, pelajaran. Analisisnya bahwa keempat komponen dalam KTSP tersebut merupakan hasil dari kebijakan kurikulum baik yang merupakan hasil buatan guru, buatan sekolah maupun buatan pemerintah. Di dalam tujuan pendidikan sekolah juga memuat mengenai hasil akhir atau sasaran yang akan dicapai/ dikehendaki atas pelaksanaan kurikulum tersebut. Kemudian di dalam Silabus dan RPP tercakup  bidang studi, program studi, bahan pengajaran, unit studi, pelajaran, dll. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;   Mata pelajaran dalam KTSP berisi “Struktur Kurikulum Tingkat Sekolah&lt;i&gt;” &lt;/i&gt; yang disusun berdasarkan  kebutuhan siswa dan sekolah terkait dengan upaya pencapaian SKL. Hal ini senada dengan kedua teori diatas yang meyatakan bahwa kurikulum harus disusun berdasarkan kebutuhan siswa dan sekolah. Adapun persamaan pengembangan struktur kurikulum pada keduanya adalah terletak pada alokasi waktu pembelajaran dan adanya jenis mata pelajaran muatan lokal dalam struktur kurikulum sekolah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Muatan lokal ini mencerminkan perlunya variable budaya dan sosial dalam kurikulum. Dalam KTSP, muatan lokal &lt;span lang="fi-FI"&gt;merupakan kegiatan kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi  sesuai dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Adapun pengembangan diri dan pendidikan kecakapan hidup dalam KTSP terkait dengan kurikulum tersembunyi. Sebab keduanya tidak termasuk dalam struktur kurikulum yang secara khusus direncanakan/ dibuat. Keduanya juga bukan mata pelajaran sehingga tidak perlu dibuat SK, KD, dan Silabus.  Pengembangan diri dalam KTSP bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, bakat, minat peserta didik, dan kondisi sekolah. Sedangkan pendidikan kecakapan hidup bertujuan untuk membekali peserta didik dengan kecakapan personal, sosial, akademik dan vokasional/ keterampilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;4.   &lt;span lang="sv-SE"&gt;Dilihat dari Muatan/ Subtansinya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Substansi KTSP memuat tiga aspek yang selaras dengan &lt;span lang="sv-SE"&gt;subtansi kurikulum yang dijelaskan dalam &lt;/span&gt;&lt;i&gt;curriculum theory&lt;/i&gt; maupun &lt;i&gt;the nature of curriculum&lt;/i&gt;, yaitu (1) kognitif/ pengetahuan, menyangkut hal-hal yang sifatnya akademik (2) afektif/ sikap dan nilai, menyangkut pembentukan dan perubahan sikap dan pola tingkah laku (3) psikomotorik/ keterampilan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;5. Persamaan antara KTSP dengan &lt;i&gt;curriculum theory&lt;/i&gt; maupun &lt;i&gt;the nature of curriculum&lt;/i&gt; adalah adanya tuntutan akan kebebasan dalam menentukan kurikulum di sekolah oleh warga sekolah, adanya partisipasi guru; partisipasi keseluruhan atau sebagian staf sekolah; rentang aktivitasnya mencakup seleksi (pilihan dari sejumlah alternatif kurikulum), adaptasi (modifikasi kurikulum yang ada), dan kreasi (mendesain kurikulum baru); perpindahan tanggung jawab dari pemerintah pusat (bukan pemutusan tanggung jawab); proses berkelanjutan yang melibatkan masyarakat; dan ketersediaan struktur pendukung (untuk membantu guru maupun sekolah).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kendala- Kendala Pelaksanaan KTSP&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Guru-guru  masih kekurangan informasi dan juga stimulus mengenai pengembangan  kurikulum berbasis sekolah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dominasi  kepala sekolah yang berlebihan atas keputusan pengembangan kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Masih  banyak guru-guru yang berpersepsi sebagai penerima-pasif pengambilan  keputusan kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Persoalan  keahlian pengembangan kurikulum warga sekolah, dimana masih banyak  guru yang masih kekurangan pengetahuan dan pengalaman tentang  pengembangan kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sumber: www.google.com&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.59cm; text-indent: -0.32cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(102, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-228312022753584407?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/228312022753584407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=228312022753584407' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/228312022753584407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/228312022753584407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/04/teori-kurikulum.html' title='Teori kurikulum'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-6296958983182614321</id><published>2008-03-29T23:15:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T03:23:50.756-07:00</updated><title type='text'>pengantar pendidikan 1</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:100%;" &gt;&lt;strong style=""&gt;Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-weight: normal; color: rgb(0, 102, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Banyak upaya-upaya peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia di lingkungan instansi pemerintah melalui berbagai pelatihan. Upaya tersebut pada umumnya dilakukan oleh Badan atau Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT) instansi yang bersangkutan. Namun demikian, tidak sedikit pula pengembangan Sumber Daya Manusia tersebut dilakukan melalui kegiatan pelatihan di dalam kegiatan proyek. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;Pelatihan-pelatihan tersebut pada umumnya diikuti oleh staf atau karyawan instansi yang bersangkutan. Pada umumnya mereka adalah "orang dewasa" yang telah mempunyai berbagai pengalaman baik dalam bidang pekerjaannya maupun pengalaman lain dan mempunyai latar belakang yang beragam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Tentu saja untuk menghadapi peserta pelatihan yang pada umumnya adalah "orang dewasa" dibutuhkan suatu strategi dan pendekatan yang berbeda dengan "pendidikan dan pelatihan" ala bangku sekolah, atau pendidikan tradisional. Pendidikan ala sekolah ini sering disebut dengan pendekatan Pedagogis. Seringkali, dalam praktek banyak "pendekatan pedagogis" diterapkan dalam pendidikan dan pelatihan bagi aparat pemerintah, yang seringkali tidak cocok. Untuk itu, dibutuhkan suatu pendekatan yang lebih cocok dengan "kematangan", "konsep diri" peserta dan "pengalaman peserta". Di dalam dunia pendidikan, strategi dan pendekatan ini dikenal dengan "&lt;/span&gt;&lt;em style="font-weight: normal;"&gt;Pendidikan Orang Dewasa" (Adult Education)&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Pengertian&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;          Malcolm Knowles&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dalam publikasinya yang berjudul "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;em&gt;T&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;em&gt;he Adult Learner, A Neglected Species&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;" mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt; "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;em style="font-weight: normal;"&gt;aner&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;", &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dengan akar kata andr- yang berarti laki-laki, bukan anak laki-laki atau orang dewasa, dan agogos yang berarti membimbing atau membina. Disamping itu, ada istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;em style="font-weight: normal;"&gt;paid&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing atau memimpin. Maka dengan demikian secara harafiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;Dengan demikian maka kalau ditarik pengertiannya sejalan dengan pedagogi, maka andragogi secara harafiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;em style="font-weight: normal;"&gt;Learner Centered Training / Teaching&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Asumsi-Asumsi Pokok&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Malcolm Knowles dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;strong style="font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;Konsep Diri&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; : Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (&lt;/span&gt;&lt;em style="font-weight: normal;"&gt;Self Determination&lt;/em&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;), mampu mengarahkan dirinya sendiri (&lt;/span&gt;&lt;em style="font-weight: normal;"&gt;Self Direction&lt;/em&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara. Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Peranan Pengalaman&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; : Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan "&lt;em style="font-weight: normal;"&gt;Experiential Learning Cycle&lt;/em&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman) Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;ul style="font-weight: normal;"&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kesiapan Belajar : &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Orientasi Belajar : &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (&lt;/span&gt;&lt;em style="font-weight: normal;"&gt;Subject Matter Centered Orientation&lt;/em&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (&lt;/span&gt;&lt;em style="font-weight: normal;"&gt;Problem Centered Orientation&lt;/em&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; Hal in menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Implikasi Untuk Praktek&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut di atas telah diperoleh dan disimpulkan beberapa perbedaan teoritis dan asumsi yang mendasari andragogi dan pedagogi (konvensional) yang menimbulkan berbagai implikasi dalam praktek. &lt;/span&gt; Dalam pedagogi atau konvensional, karena berpusat pada materi pembelajaran (&lt;em&gt;Subject Matter Centered Orientation&lt;/em&gt;) maka implikasi yang timbul pada umumnya peranan guru, pengajar, pembuat kurikulum, evaluator sangat dominan. Pihak murid atau peserta pelatihan lebih banyak bersifat pasif dan menerima. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Paulo Freire&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, menyebutnya sebagai "Sistem Bank" (&lt;em&gt;Banking System&lt;/em&gt;). Hal ini dapat terlihat pada hal-hal sebagai berikut&lt;span&gt; :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;ul style="font-weight: normal;"&gt;&lt;li&gt;Penentuan mengenai materi pengetahuan dan ketrampilan yang perlu disampaikan yang bersifat standard dan kaku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penentuan dan pemilihan prosedur dan mekanisme serta alat yang perlu (metoda &amp;amp; teknik) yang paling efisien untuk menyampaikan materi pembelajaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengembangan rencana dan bentuk urutan (&lt;em&gt;sequence&lt;/em&gt;) yang standard dan kaku&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya standard evaluasi yang baku untuk menilai tingkat pencapaian hasil belajar dan bersifat kuantitatif yang bersifat untuk mengukur tingkat pengetahuan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya batasan waktu yang demikian ketat dalam "menyelesaikan" suatu proses pembelajaran materi pengetahuan dan ketrampilan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-weight: normal;"&gt;Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, yang kemudian dikenal dengan pendekatan partisipatif, dalam proses belajar yang melibatkan elemen-elemen: &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;ul style="font-weight: normal;"&gt;&lt;li&gt;Menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merencanakan pola pengalaman belajar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang memadai&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar. Ini adalah model proses.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="font-weight: normal;"&gt;Oleh karena itu dalam memproses interaksi belajar dalam pelatihan orang dewasa kegiatan dan peranan fasilitator bukanlah memindahkan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta pelatihan. Peranan dan fungsi fasilitator adalah mendorong dan melibatkan seluruh peserta dalam proses interaksi belajar mandiri, yaitu proses belajar untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapinya, memahami kebutuhan belajarnya sendiri, dapat merumuskan tujuan belajar, dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajarnya sesuai dengan perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;Dengan begitu maka tugas dan peranan fasilitator bukanlah memaksakan program atau kurikulum dari atas, dari instansi, dari dinas, yang mereka buat di atas meja terlepas dari kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Langkah-Langkah Pokok Dalam Pelatihan Partisipatif (Andragogi)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Berdasarkan pada implikasi andragogi untuk praktek dalam proses pembelajaran kegiatan pelatihan, maka perlu ditempuh langkah-langkah pokok sebagai berikut: &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Menciptakan Iklim Pembelajaran yang Kondusif&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;div&gt;Ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan suasana yang kondusif untuk proses pembelajaran, yaitu&lt;span&gt; :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pengaturan Lingkungan Fisik&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; : Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi sosial&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pengaturan Lingkungan Sosial dan Psikologis&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; : Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung. &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Fasilitator lebih bersifat membantu dan mendukung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan Bina Suasana dan berbagai permainan yang sesuai&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengembangkan semangat kebersamaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghindari adanya pengarahan dari "pejabat-pejabat" pemerintah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyusun kontrak belajar yang disepakati bersama&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Diagnosis Kebutuhan Belajar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; : Dalam andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar atau peserta pelatihan di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya: &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Melibatkan seluruh pihak terkait (&lt;em&gt;stakeholder&lt;/em&gt;) terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Membangun dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menyediakan berbagai pengalaman yang dibutuhkan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Proses Perencanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;div&gt;Dalam perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan pelatihan tersebut. Tampaknya ada suatu "hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Libatkan peserta untuk menyusun rencana pelatihan, baik yang menyangkut penentuan materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Temuilah dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut pelatihan tersebut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terjemahkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan dan ke dalam materi pelatihan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tentukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa melakukan apa dan kapan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Memformulasikan Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;Setelah menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mengembangkan Model Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;Ini merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pelatihan dimana harus disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;div&gt;Dalam menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: &lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Materi pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman nyata dari peserta pelatihan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Materi pelatihan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Peranan Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;div&gt;Pendekatan evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni: &lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran / pelatihan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta pelatihan itu sendiri (&lt;em&gt;Self Evaluation&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ruang lingkup materi evaluasi "ditetapkan bersama secara partisipatif" atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-6296958983182614321?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/6296958983182614321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=6296958983182614321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/6296958983182614321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/6296958983182614321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/03/pengantar-pendidikan-2.html' title='pengantar pendidikan 1'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1955919338640523101.post-3111574978153054787</id><published>2008-03-29T22:44:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T02:08:13.638-07:00</updated><title type='text'>Hakikat pendidikan</title><content type='html'>Apa sih hakikat pendidikan? Apakah tujuan yang hendak dicapai oleh institusi pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak miris lihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperi pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming : lulus cepat, status disetarakan, dapat ijazah, absen longgar, dsb. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan kering idealisme seperti itu. Ki hajar dewantoro mungkin bakal menangis lihat kondisi pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti yang masih tertulis di UUD 43, bah!), tapi lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh" saat ini. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir "buruh" lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata : IJAZAH! ya, ijazah, ijazah, ijazah yang diperlukan untuk mencari pekerjaan. Sangat minim idealisme untuk mengubah kondisi bangsa yang morat-marit ini, sangat minim untuk mengajarkan filosofi kehidupan, dan sangat minim pula dalam mengajarkan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebaiknya hakikat pendidikan? saya setuju dengan kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mencerdaskan kehidupan bangsa&lt;/span&gt;. Tapi, ini masih harus diterjemahkan lagi dalam tataran strategis/taktis. kata mencerdsakan kehidupan bangsa mempunyai 3 komponen arti yang sangat penting : (1) cerdas (2) hidup (3) bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) tentang cerdas&lt;br /&gt;Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan real. Cerdas bukan berarti hapal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) tentang hidup&lt;br /&gt;Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Allah sekaligus ujian dari-Nya. Hidup itu memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Patut dijadikan catatan, bahwa jasad yang hidup belum tentu memiliki ruh yang hidup. Bisa jadi, seseorang masih hidup tapi nurani kehidupannya sudah mati saat dengan snatainya dia menganiaya orang lain, melakukan tindak korupsi, bahkan saat dia membuang sampah sembarangan. Filosofi hidup ini sangat sarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat kehidupan seseorang, memanusiakan seorang manusia, memberikannya makanan kehidupan berupa semangat, nilai moral dan tujuan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) tentang bangsa&lt;br /&gt;Manusia selain sesosok individu, dia juga adalah makhluk sosial. Dia adalah komponen penting dari suatu organisme masyarakat. Sosok individu yang agung, tapi tidak mau menyumbangkan apa-apa apa-apa bagi masyarakatnya, bukanlah yang diajarkan agama maupun pendidikan. Setiap individu punya kewajiban untuk menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat, berusaha meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat. Siapakah masyarakat yang dimaksud disini? Saya setuju bahwa masyarakat yang dimaksud adalah identitas bangsa yang menjadi ciri suatu masyarakat. Era globalisasi memang mengaburkan nilai-nilai kebangsaan, karena segala sesuatunya terasa dekat. Saat terjadi perang Irak misalnya, seakan-akan kita bisa melihat Irak di dalam rumah. Tapi masalahnya, apakah kita mampu berperan aktif secara nyata untuk Irak (selain dengan doa ataupun aksi)? Peran aktif kita dituntut untuk masyarakat sekitar...dan siapakah masyarakat sekitar? tidak lain adalah individu sebangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;WAJAH PENDIDIKAN SAAT INI&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat signifikan dalam sebuah kehidupan berbangsa. Pendidikan merupakan media strategis dalam memacu kualitas sumber daya manusia. Namun, pendidikan di tanah air sampai saat ini masih terus menimbun berbagai masalah. Meskipun berganti aparat birokrat dan orde pemerintahan, dunia pendidikan tak kunjung lepas dari permasalahan klasik baik menyangkut kualitas, daya jangkau masyarakat terhadap pendidikan, budi pekerti siswa, minimnya anggaran pendidikan yang disediakan pemerintah hingga minimnya minat belajar siswa.&lt;br /&gt;Kualitas pendidikan kita pun masih terpuruk. Berdasarkan data hasil penelitian di Singapura (September 2001) menempatkan sistem pendidikan nasional pada urutan 12 dari 12 negara Asia bahkan lebih rendah dari Vietnam. Sementara hasil penelitian program pembangunan PBB (UNDP) tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia berada pada urutan 109 dari 174 negara, jauh dibandingkan dengan negara tetangga Singapura (24), Malaysia (61),Thailand (76) dan Philipina (77).&lt;br /&gt;Kondisi lebih memprihatinkan bila melihat laporan dari International Institute of Management Development pada tahun 2000 yang menyebutkan, dari 48 negara yang diukur, daya saing SDM Indonesia menempati urutan ke-47, sementara Thailand 34, Filipina 32, Malaysia 27, Singapura 2. Salah satu faktor penting yang menyebabkan rendahnya peringkat HDI Indonesia adalah angka partisipasi pendidikan. Data dari Balitbang Depdiknas menyebutkan angka partisipasi murni (APM) pada jenjang SD/MI 94,44, SLTP/MTs 54,81, dan SLTA 31,46. Angka yang diperoleh Indonesia itu masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Angka partisipasi kombinasi pendidikan dasar, menengah, dan tinggi Indonesia sekitar (64%), Malaysia 65%, Singapura 73%, Filipina 82%, dan Korea Selatan 90%.&lt;br /&gt;Walaupun angka partisipasi murni SD di Indonesia dalam kurun 20 tahun meningkat, kualitasnya sulit dibanggakan. Kini puluhan ribu anak SD harus belajar di sekolah bobrok. Ironinya, sampai saat ini belum terjawab, bagaimana Pemerintah menangani persoalan yang sangat kasatmata itu; sementara masih banyak anak usia SD yang putus sekolah atau malah belum terjangkau sama sekali oleh pelayanan pendidikan. Wajib belajar 9 tahun secara kuantitatif pun sulit bisa dituntaskan pada tahun 2008.&lt;br /&gt;Angka partisipasi murni SLTP baru sekitar 60% dan angka putus sekolah sangat mengkhawatirkan. Sekitar 10% angka buta huruf berasal dari penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas. Dari hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat SD yang dilaksanakan oleh organisasi International Educational Achievement (IEA) menunjukkan bahwa siswa SD Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat SLTP, studi untuk kemampuan matematika siswa Indonesia pada urutan ke-34 dari 38 negara. Untuk kemampuan IPA pada urutan ke-32 dari 38 negara peserta. Kurang seriusnya pembangunan pendidikan nasional itu juga tercermin dari kurangnya penghargaan terhadap guru.&lt;br /&gt;Dunia pendidikan tinggi kita juga terpuruk. Berdasarkan peringkat universitas terbaik di Asia versi majalah Asiaweek 2000, tidak satu pun perguruan tinggi di Indonesia masuk dalam 20 terbaik. UI berada di peringkat 61 untuk kategori universitas multidisiplin. UGM diperingkat 68, UNDIP diperingkat 77, UNAIR diperingkat 75; sedangkan ITB diperingkat 21 untuk universitas sains dan teknologi, kalah dibandingkan dengan Universitas Nasional Sains dan Teknologi Pakistan.&lt;br /&gt;Melihat realitas pendidikan Indonesia saat ini sama dengan menangis, semuanya hanya melahirkan kisah sedih sampai hari ini. Tapi kalau kita sedih namum tidak menggugah kita melakukan sesuatu, maka tangisan generasi berikutnya adalah tangisan “berdarah” dan kita seharusnya disebut sebagai angkatan biadab yang tidak melakukan perbaikan apapun di negeri ini. Momentum hari pendidikan nasional tahun ini seharusnya menjadi tonggak dan refleksi bersama untuk kemajuan masa depan pendidikan, bukan justru diskursus politik, perebutan kekuasaan,  dan perdebatan yang cenderung menyapu atmosfer kesadaran kita, melupakan urgensi pendidikan untuk masa depan bangsa atau menjadikan pendidikan sekedar wacana atau jualan jelang pilkada atau pemilu.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;            &lt;p style="color: rgb(102, 0, 0);" class="postmetadata alt"&gt;&lt;small&gt;Sumber: bahrul ulum's weblog&lt;/small&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right; color: rgb(102, 0, 0);" class="MsoNormal" align="right"&gt;&lt;i&gt;“Pabaliut &lt;/i&gt;berarti seperti benang kusut, perlu upaya sungguh-sungguh dan kesabaran untuk bisa mengurai benang kusut.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);" class="MsoBodyText"&gt;Sungguh para guru harus berbesar hati untuk mengakui bahwa kualitas pendidikan saat ini memang sudah berada dalam kondisi yang memprihatinkan, salah satu faktor signifikan dari rendahnya kualitas pendidikan adalah masih rendahnya kualitas profesional sebagian besar guru-guru. Jadi saat ini bukan saatnya guru terlalu banyak menuntut tanpa kita berusaha untuk memperbaiki kualitas profesional kita.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Tetapi tentunya bukan hanya guru yang harus berusaha memperbaiki diri, semua komponen yang terlibat dalam dunia pendidikan juga harus terus berusaha untuk memperbaiki diri. Apalah artinya guru yang profesional tetapi berada dalam sistem yang &lt;i&gt;pabaliut&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Langkah-langkah apa saja untuk memperbaiki kualitas pendidikan di masa depan :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Merombak kurikulum LPTK&lt;/b&gt;, LPTK harus seperti STAN atau AKABRI. Mahasiswa di jaring melalui suatu selekksi yang komprehensif kemudian setiap mahasiswa mendapat tunjangan ikatan dinas dan di asramakan, sebab selain penguasaan terhadap materi bidang studi , seorang guru adalah pendidik yang harus menguasai psikologi maupun pengetahuan dan pengalaman untuk pengembangan karakter.Calon guru harus juga dibekali dengan kepribadian yang paripurna. Jangan seperti sekarang ini banyak calon guru yang lulus dari &lt;b&gt;kelas karyawan kelas jauh&lt;/b&gt; yang hanya belajar setiap hari sabtu selama 6 jam kemudian ujiannya gotong royong dimana kuliah hanya merupakan kegiatan formalitas&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;untuk mengejar ijazah&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;bagi mahasiswa dan untuk mengejar materi bagi para pengelolanya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Law enforcement, &lt;/b&gt;penegakkan hukum baik yang berupa undang-undang maupun peraturan di bidang pendidikan. Sekarang ini undang-undang bagus-bagus demikian juga peraturan tetapi semua itu hanya tersimpan di lemari pembuat kebijakan tanpa pernah dilaksanakan secara sungguh-sungguh.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Jauhkan seleksi penerimaan guru dari praktek-praktek KKN. Seleksi penerimaan guru harus dilaksanakan dengan profesional menggunakan jasa konsultan atau perusahaan atau LPTK/Universitas dengan materi seleksi yang mengarah pada kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, jangan seperti sekarang ini seleksi guru selain dipenuhi dengan praktek KKN juga materi seleksi tidak mengarah kepada menilai kompetensi yang harus dimiliki seorang guru.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Buat peraturan yang membatasi jumlah siswa di kelas , kemudian lengakapi fasilitas standar yang harus dimiliki sekolah&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Birokrasi yang mengelola pendidikan harus benar-benar memahami fungsi dan tugas mereka. Jangan seperti sekarang ini ada Kepala Dinas Pendidikan yang karirnya bukan berasal dari dunia pendidikan. Buatlah peraturan misalnya ;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 74.25pt; text-indent: -20.25pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;a.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;kepala dinas pendidikan kabupaten harus berpengalaman sekurang-kurangnya10 tahun menjadi guru dan 10 tahun menjadi kepala sekolah serta menunjukkan prestasi yang luar biasa selama menjadi guru dan kepala sekolah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 74.25pt; text-indent: -20.25pt; text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;b.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;Kepala dinas pendidikan kecamatan dan seterusnya juga harus diberi syarat seperti di atas sehingga yangmenjadi pejabat birokrasi pendidikan benar-benar mereka yang berpengalaman dan mengerti pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Demikialah beberapa langkah yang menurut hemat saya dapat meningkatkan kualitas pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(102, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: www.google.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="postmetadata alt"&gt;&lt;small&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;/small&gt;     &lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1955919338640523101-3111574978153054787?l=setia-unindra-bio2b.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/feeds/3111574978153054787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;postID=3111574978153054787' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/3111574978153054787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1955919338640523101/posts/default/3111574978153054787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/03/pengantar-pendidikan.html' title='Hakikat pendidikan'/><author><name>Setia van yellow..!!^^</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-FgZJRGtzmaI/TnyXSGuiWoI/AAAAAAAAAKM/tRlRi1wCP7o/s220/bneka2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
